Cerpen (Tabungan Rati)

Tabungan Rati

 

Rati duduk di mobil angkot sekolah menuju rumahnya. Udara panas membuat dia membuka jendela mobil lebar-lebar. Terlihat Janu melewati mobil angkot, meliak-liuk seperti mengejek.

 

Rati merasa malu karena dia satu-satunya anak SMP yang naik mobil angkot. Sisanya adalah anak-anak SD. Dia ingin sekali membeli sepeda listrik namun harganya pasti mahal. Kata teman-teman harganya Rp.3.500.000,00. Kalau meminta ayah membelikan sudah pasti akan ditolak.

 

Rati duduk di kursi depan bersama pak sopir yang ramah. Dia menceritakan dahulu mobil angkot digemari banyak orang. Semenjak ada sepeda motor, orang semakin jarang naik mobil angkot. Pak sopir beralih dari sopir angkot umum menjadi sopir khusus untuk murid.

 

Satu alasan lagi mengapa Rati ingin membeli sepeda listrik adalah karena harus jalan kaki menuju rumahnya. Jarak rumahnya satu kilometer dari jalan utama, dia berjalan dengan anak SD yang kebetulan rumahnya berdekatan.

 

Selama perjalanan mereka mengobrol tentang sepeda listrik. Ternyata anak SD itu juga ingin memiliki sepeda listrik. Mereka merasa senasib karena tidak memiliki uang untuk membeli sepeda listrik.

 

Sepeda listrik adalah kendaraan yang marak di kalangan anak-anak. Sepeda ini gampang digunakan, tidak perlu mengayuh seperti sepeda biasa. Sepeda ini juga tidak memerlukan bensin karena sumber tenaganya dari listrik.

 

Tiba di rumah, tujuan pertama Rati adalah ke dapur mencari air untuk diminumnya. Dia melihat ibunya masih sibuk menjarit baju pesanan tetangga. Sesekali dia turun dari kursinya dengan pincang mengambil potongan-potongan kain.

 

Rati langsung mengambil keranjang tempat menyimpan kain perca. Dia kasihan dengan kondisi ibunya yang jalannya pincang. Sejak setahun yang lalu ibunya menderita stroke ringan.

“Ibu kain percanya ini mengapa tidak dibuang?” tanya Rati.

“Jangan dibuang, kainnya bisa kita manfaatkan menjadi keset, taplak meja, saputangan, atau bisa menjadi baju baru. Bisa kita jual nantinya,” kata ibunya.

 

Ibu Rati memang pintar memanfaatkan barang bekas menjadi benda yang bisa dijual. Dia pintar mencari uang, teliti juga menyimpan uang. Dia memiliki buku untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran keluarga.

 

“Ibu, besok Rati harus membayar uang LKS harganya Rp.20.000,00 kalau ibu beri Rp. 25.000,00 boleh juga,” kata Rati tersenyum.

 

“Semester lalu harganya Rp. 15.000,00. Jangan berbohong. Mana nota pembayarannya?” tanya Ibu.

 

“Ibu tidak percaya sama anak sendiri? Kan ibu sering bilang harga barang sekarang serba naik. Harga buku juga naik, Bu. Ini daftar harganya!” kata Rati.

 

“Benar. Harga barang semua naik. Nilai uang menurun terus. Kamu harus pintar-pintar membelanjakan uang. Ingat menabung kalau bisa investasi untuk menjaga nilai uang,” kata Ibu.

 

“Ibu, kira-kira Rati bisa dibelikan sepeda listrik, ya? Saya malu naik mobil angkot sendiri,” kata Rati.

 

“Bukannya kita sudah sepakat membayarnya setengah-setengah? Kamu sudah menabung? Atau uang jajan kamu habiskan tanpa sisa?” tanya Ibu.

 

“Padahal bisa saja Rati dibelikan sepeda listrik, sayangnya saya punya orang tua yang pelit. Kenapa sih ayah ibu suruh Rati hemat? Janu saja dibelikan sepeda listrik oleh ayahnya,” sungut Rati.

 

 

“Kalau ayah dengar, pasti kamu akan kena marah. Ingat kita bukan keluarga berada seperti Janu. Kalau membeli sesuatu kamu juga harus berhemat dulu,” kata Ibu.

 

“Maafkan Rati, Bu. Bukan maksud saya begitu. Saya hanya lelah berjalan kaki siang-siang. Saya janji lebih rajin menabung lagi,” kata Rati.

 

“Kalau mau beli sepeda listrik, jangan dibelanjakan saja uangnya. Jangan beli apa namanya? Boneka Hello Kitty?” kata Ibu.

 

“Iya, Bu. Rati merasa bersalah tidak memberi makan celengan Rati. Padahal saya membeli celengan yang mahal, supaya rajin menabung. Tetapi semangat saya mudah goyah,” kata Rati.

 

Rati masuk ke kamar langsung mencari celengannya yang berbentuk anjing. Ibu memberinya uang jajan Rp.15.000,00. Dia menyisakan Rp. 5.000,00 untuk ditabung.

 

Selama enam bulan ini tabungan Rati mungkin tidak seberapa. Dia jarang menabung, seringnya uang sakunya habis dibelanjakan. Janu sering mengajaknya membeli bakso di kantin sekolah. Janu sering juga mentraktirnya karena uang saku Janu sangat banyak.

 

Rati berpikir untuk menjaga jarak dengan Janu supaya dia tidak ketularan boros. Dia harus fokus menabung supaya bisa membeli sepeda listrik berwarna merah muda.

 

“Ibu, Rati punya ide. Bagaimana kalau Ibu memberi saya uang saku setiap bulan? Saya pasti bisa menabung lebih banyak lagi,” kata Rati.

 

“Yakin kamu bisa mengelola keuangan? Setahu ibu kamu mudah berubah pikiran. Jangan nanti di tengah bulan sudah kehabisan uang,” kata Ibu.

 

“Yakin, Bu. Rati sudah menghitungnya. Saya cukup belanja Rp.5.000,00 dan saya akan membawa bekal supaya tidak belanja, Bu,” kata Rati.

 

“Hmm, Ibu masih ragu,” kata Ibu.

“Dicoba dulu, Bu. Demi sepeda listrik. Rati mau ke sekolah memakai sepeda listrik. Biar tidak malu dengan teman-teman,” kata Rati.

 

Rati berhasil membujuk ibunya. Dia mendapat uang bulanan Rp.360.000,00. Ia memasukkan Rp.200.000,00 ke celengan tanpa ragu. Dia memeluk celengan sambil mengkhayal membeli sepeda listrik

.

Semangat Rati menabung sedang besar-besarnya, dia seperti melupakan kemungkinan di masa depan. Sementara ibu masih meragukan keputusan anaknya. Ibu tahu Rati mudah berubah pikiran.

 

 

Menabung di LPD

 

Parkir sekolah dipenuhi dengan sepeda listrik dengan berbagai warna. Rati melihat Janu memarkir sepedanya dengan rapi, sepeda itu masih baru. Dia menuju ruang kelas dengan Janu, jam pelajaran akan segera dimulai. Pelajaran Matematika akan menghibur kesedihannya, Matematika adalah pelajaran favoritnya.

           

“Soal ini begitu susah ada perkalian, Pak Guru malah melarang penggunaan kalkulator,” kata Janu melihat kertas ulangannya.

“Makanya jangan hanya bergantung pada teknologi. Teknologi bikin kita malas, sama kayak sepeda listrik,” kata Rati.

 

“Ini kenapa bawa-bawa sepeda listrik, sih? Kamu iri ya dengan sepeda baruku?” kata Janu.

 

“Siapa yang iri? Saya hanya malu punya teman kelas SMP belum hafal perkalian,” kata Rati.

 

“Saya yakin akan remedial ulangannya Pak Yudi. Tidak mengerti saya dengan materi laba-rugi,” kata Janu.

 

“Laba itu kalau pemasukan lebih besar dari pengeluaran. Rugi itu kalau pengeluaran lebih besar dari pemasukan,” kata Rati.

 

“Kalau saya traktir kamu bakso, rugi berarti saya. Saya tidak tega melihat kamu kelaparan demi menabung,” kata Janu.

 

“Maaf ya, kata-kataku tadi tentang sepeda listrik. Jujur saya ingin punya sepeda listrik, tetapi peluangnya kecil,” kata Rati.

 

“Tidak ada yang tidak mungkin Rati. Saya salut punya teman gigih sepertimu. Nanti pulang aku bonceng, ya?! Supaya kamu tahu rasanya naik sepeda listrik,” kata Janu.

 

“Terimakasih Janu. Seandainya saya sekaya kamu. Semua serba mudah,” kata Rati.

 

“Tetapi orang tuaku selalu sibuk. Saya kadang iri sama kamu, bisa dekat dengan orang tua,” kata Janu.

 Pulang sekolah Rati dibonceng oleh Janu. Rasanya sangat nyaman, tidak ada suara yang menderu. Tidak ada bau asap knalpot. Leluasa berkelak-kelok di sela-sela kendaraan.

“Ingat, ya! Buatkan saya tabel perkalian!” kata Janu.

 

“Tetapi bayar, ya. Nanti saya buatkan sekalian untuk teman-teman,” kata Rati.

 

“Eh, ada Janu. Terimakasih, ya. Sudah mengantar Rati. Besok biarkan dia naik angkot saja, kasihan rumahmu jauh,” kata Ibu Rati.

Janu pulang setelah berpamitan kepada Ibu Rati.

“Ibu, Rati boleh tidak buka celengannya? Saya baru ada ide membuat bisnis,” kata Rati.

 

“Itu kan, benar kata ibu. Baru sehari kamu sudah berubah pikiran. Mending uangmu ditabung di LPD, biar tidak berpikir buka celengan,” kata Ibu.

 

 

“Rati, baru ketemu ide bisnis. Pak Yudi melarang murid-murid menggunakan kalkulator. Saya mau jual tabel perkalian. Uang celengan mau Rati pakai modal membuat tabel perkalian,” kata Rati

.

“Baiklah, yang penting jangan minta uang ke ibu. Sisa tabungan sebaiknya kamu simpan di LPD saja. Ibu juga menabung di sana, setiap hari ada pegawai ke sini mengambil tabungan,” kata ibu.

 

“Baik, Bu. Nanti Rati ke LPD setelah membuka celengan. Sedih juga harus membuka celengan anjing Rati,” kata Rati

 

Rati menuju LPD, letaknya sangat dekat dari rumah. LPD kepanjangan dari Lembaga Perkreditan Desa. Dia sudah lama tahu tentang LPD, hanya baru sekarang terpikir untuk menabung di LPD.

 

“Pak, saya mau membuka tabungan pelajar, saya hanya punya kartu pelajar untuk identitas” kata Rati kepada pegawai LPD.

 

“Bagus sekali, masih muda sudah sadar menabung. Menabung di LPD banyak kelebihannya, Nak,” kata Pegawai LPD.

 

“Apa kelebihannya, Pak?” kata Rati.

“LPD adalah lembaga keuangan milik desa adat, LPD ini hanya ada di Bali dan Sumatera Barat. LPD sumber dananya berasal dari desa dan dikelola untuk kepentingan desa,” kata Pegawai LPD.

 

“LPD berarti menjadi ciri khas Bali ya, Pak? Apalagi kelebihannya, Pak?” tanya Rati.

 

“LPD didirikan tahun 1984 atas prakarasa Profesor Ida Bagus Mantra, Gubernur Bali. Menabung di LPD tidak dikenakan biaya administrasi setiap bulan seperti di bank. Suku bunganya relatif tingga 0.3 % per bulan,” kata Pegawai LPD.

“Baiklah, saya membuka tabungan di LPD, ya” kata Rati.

Rati menghitung modal yang diperlukan untuk membuat tabel perkalian. Print warna memerlukan biaya Rp.2.000,00. Supaya awet tabel perkalian itu perlu dilaminating biaya laminating adalah Rp. 3.000,00. Teman-teman yang memesan ada 20 orang. Dia mengalikan semua sehingga modal yang diperlukan adalah Rp.100.000,00.

Tabel perkalian itu akan dia jual Rp.7.000,00 per lembar. Sehingga harga jualnya menjadi Rp.140.000,00, Rati mendapatkan keuntungan Rp.40.000. Lumayan juga keuntungan yang dia dapatkan.

 

Rahasia Janu

 

Tidak biasanya Janu ikut naik mobil angkot. Rati merasa senang karena mendapatkan teman ngobrol. Mereka juga suka menggoda Pak Sopir.

“Pak, sudah punya saputangan tidak? Ini teman saya jualan saputangan. Harganya dijamin murah,” kata Janu.

“Apa sih Janu. Bikin malu saja. Itu ibu saya yang jual. Saya hanya bisnis tabel perkalian untuk murid seperti kamu,’ kata Rati.

“Kalau bisnis jangan nanggung-nanggung. Kamu tawarin saja saputangan ibumu,” kata Janu

“Kok tumben naik mobil angkot? Mana sepeda listrikmu?” tanya Rati.

“Sudah saya jual,” kata Janu.

“Sombong,” kata Rati

“Saya ingin menabung, sepertimu biar cepat kaya,” kata Janu.

“Kamu kan sudah kaya?” kata Rati.

 

Tabel perkalian Rati laku keras. Apalagi Pak Yudi akan mengadakan remedial. Ini berkah bagi Rati karena semakin banyak yang memesan tabel perkaliannya.

“Saya traktir kamu bakso karena berkat kamu aku punya ide menjual tabel perkalian,” kata Rati.

“Nanti antarkan saya ke LPD. Saya mau menabung,” kata Janu.

 

“Ini beneran? Kata-kata di angkot tadi beneran?” tanya Rati.

 

“Beneran. Ayah saya bangkrut. Ayah saya korupsi,” kata Janu menunduk.

“Maaf Janu saya tidak bermaksud membuatmu sedih. Sabar, ya. Semoga yang disangkakan ke ayahmu tidak benar,” kata Rati.

 

“Ayah sudah mengakuinya. Saya malu selama ini menggunakan uang hasil korupsi. Saya mau menabung dengan usaha saya sendiri,” kata Janu.

 

“Bagaimana kalau kita menjual saputangan kain perca? Kita jual ke pak sopirnya,” kata Rati.

 

“Ye, tadi bilang tidak mau. Malu katanya. Kita pasarkan juga di sekolah. Kita jual ke kantin, guru, dan teman-teman,”

 

Rati dan Janu pergi ke LPD. Janu ingin membuat tabungan.

 

“Pak adakah layanan tabungan yang memberikan bunga lebih besar?” tanya Janu.

“Kami ada tabungan berjangka, dan deposito, keduanya memerlukan tabungan yang lebih besar,” kata Pegawai LPD.

 

“Bisa dijelaskan apa itu tabungan berjangka dan deposito?” tanya Janu.

“Tabungan berjangka kamu perlu menabung dengan jumlah yang sama setiap bulan. Kalau deposito kamu menyediakan sejumlah uang di awal. Tabungan berjangka dan deposito sama-sama memiliki jangka waktu penarikan,” kata Pegawai LPD.

 

“Wah, mesti sabar ya, Pak. Saya menyesal baru menabung sekarang. Ini berkat Rati ini,” kata Janu.

“Menabung itu manfaatnya kita rasakan di masa depan. Jarang lo ada anak-anak yang memiliki kesadaran menabung seperti kalian. Ini belum terlambat namanya,” kata Pegawai LPD.

“Terimakasih penjelasannya, Pak. Kami mau mengumpulkan dana dulu supaya bisa membuat tabungan berjangka dan deposito,” kata Janu.

Janu mampir ke rumah Rati. Mereka disambut ibu yang sedang menjarit seperti biasa. Ayah Rati juga baru datang dari kantor.

“Ayah, kok sudah di rumah?” tanya Rati.

 

“Ayah mampir pulang, tadi ke rumah nasabah mengurus kredit macet,” kata Ayah.

 

“Barang-barang ayah saya juga disita bank. Ayah saya ketahuan korupsi. Saya malu punya ayah koruptor,” kata Janu.

 

“Wah, kalau mengurus anggaran memang banyak godaan. Kamu harus tetap menyayangi ayahmu, dia hanya salah jalan,” kata Ayah Rati.

“Nak, diminum tehnya. Ada keperluan apa ke sini? Ada tugas kelompok ya?” kata Ibu.

 

“Saya dan Rati mau bantu ibu jualan saputangan kain perca, Bu. Nanti terserah kamu berapa memberi saya komisi,” kata Janu.

 

 

“Wah, kecil-kecil sudah belajar bisnis. Bagus itu. Ibu tidak hanya menjual saputangan. Ini ada taplak meja, keset. Semua dari barang bekas.

 

“Saya punya banyak baju bekas di rumah, Bu. Sepertinya bisa dibuatkan keset. Bisa ajarkan saya, Bu! Nanti saya buat di rumah,” kata Janu.

“Janu sekarang miskin, Bu. Semua mau dijadikan uang. Kalau dulu mah sombong,” kata Rati.

 

“Uss, tidak boleh bicara begitu. Kasihan Janu. Membuat keset mudah nak, sekali diajarin pasti bisa. Bahannya memang dari baju bekas. Itung-itung mengurangi sampah,” kata Ibu.

 

“Tenang, Bu. Kami sudah biasa saling ejek. Besok saya membawa baju bekas saya ke sini, ya Bu. Rati kita punya promosi yang bagus. Membeli produk kami, berarti ikut menjaga bumi dari sampah,” kata Janu.

 

“Berlebihan. Tapi benar saja. Nanti saya buat brosurnya,” kata Rati.

 

Mimpi Terwujud

 

Janu datang ke rumah Rati dengan sepeda listriknya. Dia membawa sebungkus baju bekas yang akan dibuatkan keset.

“Sepeda listrikmu tidak jadi dijual?” tanya Rati.

 

“Ditawar terlalu murah. Kasihan. Saya pakai untuk jualan saja. Nanti saya jual saputangan ini di kantin. Kamu jual di sopir angkotnya ya?” kata Janu.

 

 

“Beneran serius mau jualan ternyata. Kamu berubah drastis. Masih tidak percaya saya,” kata Rati.

“Sekarang Janu yang kamu lihat adalah Janu wirausahawan muda,” kata Janu.

 

Rati berencana menjual saputangan di mobil angkot. Rati berusaha memulai percakapan.

 

“Pak, gerah ya di mobil angkot? Apalagi kalau siang, isi macet. Apa yang biasa bapak pakai untuk mengelap keringat?” kata Rati.

“Bapak punya handuk kecil. Bapak beli di pasar. Adik mau beneran mau nawarin saputangan?” kata Pak Sopir.

“Ternyata bapak masih ingat, ya. Saputangan dari kari perca pak. Kainnya halus, harganya murah pak Rp.10.000,00 saja. Kalau bapak beli, bapak juga ikut mengurangi pemanasan global pak,” kata Rati.

“Pintar juga kamu jualan. Bapak beli dua, ya!” kata Pak Sopir.

 

Janu menjual saputangan di kelas. Rati membagikan brosur yang dibuat tentang pemanasan global.

“Teman-teman tahu tidak tisu yang kita pakai terbuat dari apa? Tisu tidak lain terbuat dari sebatang pohon. Ini artinya apa? Memakai tisu berarti kita menebang pohon,” kata Janu.

 

“Untuk membuat satu ton tisu kita perlu menebang 17 batang pohon. Penebangan pohon menjadi penyebab pemanasan global. Kita yang memakai tisu ikut menyebabkan pemanasan global,” sambung Janu.

 

“Kita sudah disuruh membawa botol minum sendiri, kotak makan sendiri. Kita juga bisa memakai saputangan sendiri. Kita hanya perlu beli sekali dan bisa dipakai berkali-kali,” kata Rati.

Teman-teman tertarik membeli saputangan kain perca. Rati dan Janu kewalahan menghadapi permintaan teman-temannya. Janu berhasil menarik perhatian teman-temannya. Dia memang berbakat menjadi wirausaha.

“Ternyata kamu berbakat jadi pembicara seperti ayahmu,” kata Rati.

 

“Jangan samakan saya dengan ayahku. Dia koruptor saya malu punya ayah koruptor. Tapi ada bagusnya ibu lebih dekat lagi dengan saya,” kata Janu.

 

“Saya boleh ikut jenguk ayahmu nanti?” tanya Rati.

 

“Sudah, ah. Kita makan bakso dulu! Kita rayakan keberhasilan kita. Ternyata seru juga menjadi wirausaha muda,” kata Janu tertawa.

 

Rati ikut Janu dan ibunya ke rumah tahanan. Ayah Janu tertunduk dengan rompi oranyenya.

 

“Maafkan ayah, ya. Ayah sadar selama ini hanya mementingkan materi saja. Ayah lupa memberikanmu perhatian dan kasih sayang,” kata Ayah Janu.

 

“Saya memaafkan ayah. Saya banyak belajar dari keluarganya Rati. Mereka hidup sederhana tetapi selalu bahagia. Janu belajar bisnis sekarang, Yah,” kata Janu.

 

“Jaga kesehatan selalu ya, Pak. Semoga permasalahan Bapak cepat selesai,” kata Rati.

 

“Terimakasih, ya. Sudah menjenguk Bapak. Terimakasih sudah membuat Janu lebih rajin,” kata Ayah Janu.

Janu singgah ke rumahnya Rati. Dia mau belajar membuat keset. Dia sudah membawa pakaian bekasnya.

Ibu Rati memotong pakaian bekas memanjang. Potongan itu kemudian dijalin seperti menjalin rambut. Tidak lupa Ibu mencocokan warna kainnya sehingga lebih menarik.

Janu cepat mengerti apa yang dicontohkan Ibu Rati. Tidak lama dia sudah menyelesaikan satu buah keset berwarna biru dan merah. Janu akan menjual keset itu di pasar di hari Minggu.

 

“Kamu yakin mau menjual keset ini di pasar? Bagaimana kalau ada teman yang melihat kita?” kata Rati dari belakang.

“Sudah kamu duduk tenang saja di belakang. Saya buru-buru biar cepat sampai ke pasar. Supaya tidak kehilangan pelanggan karena kesiangan,”

Janu menggelar terpal kemudian menaruh kesetnya. Mereka berjualan di emperan pasar berdekatan dengan dagang sandal.

“Ayo, dibeli keset hasil daur ulang baju bekas. Membeli berarti ikut mengurangi sampah, ikut menjaga lingkungan,” kata Janu.

 

“Ayo, dibeli warnanya menarik, harganya murah,” kata Rati malu-malu.

 

“Ternyata membawa isu lingkungan untuk berjualan berhasil juga, ya. Apa saya bilang kalau giat berusaha pasti berhasil,” kata Janu.

“Lama-lama kamu cocok jadi pejuang lingkungan. Nanti gabung komunitas lingkungan saja. Syukur usaha kita laku keras,” kata Rati.

“Besok kita menabung ke LPD, ya. Sepertinya kita bisa deposito deh,” kata Janu bangga.

 

“Mulai deh, sombongnya kumat,” kata Rati.

 

Rati melihat buku tabungannya dengan mata berbinar. Angkanya sudah mencukupi untuk membeli sepeda listrik. Sepeda listrik warna merah muda idamannya.

“Ayah, uang tabungan Rati sudah mencukupi setengah harga sepeda listrik. Saya menagih janji Ayah sekarang lengkapi harga sepeda listrik,” kata Rati.

“Iya, ayah masih ingat. Tapi ibumu kan harus terapi besok. Jadi sementara uang bapak untuk biaya terapi Ibu, ya,” kata Ayah

.

“Baik, Ayah. Bulan depan Rati tagih janjinya, ya,” kata Rati.

 

LPD memberi kabar gembira untuk Rati dan Janu. LPD mengalokasikan keuntungannya untuk Dana Pembangunan dan Dana Sosial. Dana pembangunan tidak hanya pembangunan fisik melainkan juga pembangunan manusia. LPD akan memberikan bantuan pendidikan kepada murid berprestasi.

 

“Pak, apa saja syarat untuk mendapatkan beasiswa prestasi ini, Pak?” tanya Rati.

 

“Melampirkan piagam dan sertifikat memenangkan lomba. Nanti kami pilih tiga orang yang mendapat biasiswa,” kata Pegawai LPD.

 

“LPD benar-benar bermanfaat bagi desanya ya, Pak. Rati akan lebih rajin lagi menabung di LPD,” kata Rati.

Rati berhasil mendapatkan beasiswa prestasi LPD. Uangnya cukup menggenapkan harga sepeda listrik. Dia senang sekali tidak jadi membebani ayahnya sehingga ayah lebih fokus merawat ibu.

Rati diajak ayah ke dealer sepeda listrik.

“Ayah sepeda ini bagus, Yah. Warnanya merah muda Rati suka,” kata Rati.

“Ibu, berapa harga sepeda listrik ini, ya?” tanya Ayah Rati.

“Kalau ini memang keluaran terbaru, Pak. Harganya Rp.4.500.000,00 pak” kata Ibu SPG.

“Wah, harganya mahal, Yah. Uang Rati tidak ada segitu,” kata Rati.

“Kita cari di tempat lain ya!” kata Ayah Rati.

Rati dan Ayah mencari di dealer lain namun harganya belum sesuai. Harganya tidak jauh berbeda. Dia merasa bosan.

“Ayah, kita pulang saja ya. Rati tidak jadi dah membeli sepeda listrik. Saya lanjut menabung saja. Kasihan uangnya,” kata Rati.

 

Rati terlihat murung di kelas. Dia masih berpikir tentang sepeda listrik impiannya. Dia sudah bosan harus berjalan kaki satu kilo meter. Dia bosan harus bangun pagi-pagi supaya tidak ketinggalan mobil angkot.

“Kenapa mukamu kusut begitu dari pagi saya lihat?” tanya Janu.

“Harga sepeda listriknya semakin mahal. Saya tidak mampu membelinya,” kata Rati.

“Iya, saya juga tidak tega mengeluarkan uang untuk itu. Saya sudah merasakan susahnya mencari uang,” kata Janu.

 

“Bagaimana kalau saya membeli sepeda gayung saja? Sepeda gayung warna merah muda kan ada juga, ya?” kata Rati.

“Ingat lebih penting fungsi daripada gengsi,” kata Janu.

 

Rati sepakat dengan Janu. Dia mengajak Ayah membeli sepeda berwarna merah muda. Sepedanya terlihat lucu dengan keranjang di depannya. Keranjang itu akan dia pakai menaruh barang dagangan.

 

Rati dan Janu bisa berangkat ke sekolah bersama. Janu dengan sepeda listriknya, Rati dengan sepeda gayungnya. Mereka juga semakin rajin menabung di LPD

Postingan populer dari blog ini

Teka-Teki

Darsana adalah Sistem Filsafat Hindu