aku suka pagi
Hari ini hari Minggu, hari yang suci bagi kaum buruh seperti aku. Hari dimana aku gak pusing pagi2, siapin ini itu buat berangkat kerja. Aku bisa santa sesantainya. Menikmati pagi dengan perlahan. Dari subuh diisi dg aktivitas yang slow, membaca buku, menulis jurnal, dan minum kopi. Ini bagian terpentingnya, kopi dan pagi adalah pasangan integral. Seruput kopi dengan perasaan segar pagi-pagi.
Tidur hari ini berkualitas banget. Tidur lelap tanpa hrus kebangun seperti kemarin. Kemarin aku sakit, malam2 badanku panas jdi harus minum obat. Sekarang Astungkara membaik. Badan segar dengan perasaan tiang gembira. Oh ya kayaknya ada satu pemicu yg bikin aku bahagia. Itu karena outline bukuku sudah jadi. Lumayan puas dengan ilustrasi nya.
Kemarin aku dikirimin draft buku yg akan dicetak. Aku diminta revisi. Buku inii adalah karyaku yang keempat. Aku tunggu-tunggu banget. Setelah aku cek, aku rasa hanya sdikit masukan minor. Aku puas dg outline bukunya. Puas juga dengan ilustrasi nya. Jadi ini jg pemicu kenapa aku bahagia pagi ini. Kenapa tidurku nyenyak.
Karena sakit menikmati pagi, khususnya subuh. Aku gak rela pagi berganti. Ada perasaan sedih jika pagi berganti. Coba semua hari itu vibes nya pagi. Badan segar, benak dipenuhi dg harapan2 baik, pasti bagus. Tapi itu gak mungkin. Dasar manusia maunya aneh-aneh. Nanti klo kepenuhin pun, manusia bakal ngeluh juga. Makanya bersyukur.
Pagi itu indah karena sementara. Biar besok kita nunggu lagi datangnya pagi. Ngopi lah, baca buku lah, nulis lah. Aktivitas itu jadi menyenangkan karena eksklusif. Jadi bersyukurlah karena pagi itu sementara. Aku jadi lebih menghargainya. Karena aku sangat menyukai pagi.
Mungkin aku morning person ya. Aku biasa menulis di pagi hari. Pertama badan fresh habis istirahat, suasana hening belum ad aktivitas manusia. Paling yg kedengeran adl aktivitas masak. Krontang-kronteng tapi aku menyukai suara itu. Kayak puisi dg latar pagi.
Pagi ini aku mulai dg Ikigai. Pertanyaan apa yg bisa aku lakukan utk membuat hari ini berharga? Saatnya merenung