Cerpen Manusia Plastik
Manusia Plastik
Oleh: I Nyoman Sutarjana, S.Pd.H.
SMA Negeri 1 Gianyar
Astra menarik tangan ibunya, yang
sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas
cengkraman tangan Astra berusaha menaruh sampah plastik ke dalam bajunya.
Sungai hanya diisi beberapa ibu yang mencuci baju, seorang ibu bersama anaknya
menghaturkan sesajen di Pura Taman. Mereka abai dengan kondisi Astra, hal itu
lumrah terjadi. Kehabisan akal, Astra terpaksa mengikuti pola pikir ibunya.
Botol plastik ukuran satu liter dia ambil lalu ditimang-timang.
“Ibu adik menangis dia minta makan. Kita
ke rumah dulu ya!” kata Astra.
“Cup, cup, cup. Anak baik, jangan
menangis. Kita pulang sekarang ya!” kata ibunya.
Rumah Astra penuh dengan sampah
plastik bahkan tempat suci yang masih berbentuk turus lumbung digantungi kresek
berwarna-warni. Astra merebahkan badannya setelah melihat ibunya masuk ke
kamarnya. Hari ini begitu menguras emosi baginya, siang tadi dia bersitegang
dengan rekan kerjanyanya masalah penyusunan anggaran. Dia meninggalkan rapat
begitu saja kemudian mencari ibunya.
Melihat atap rumahnya yang masih
belum berisi plafon, Astra teringat bagaimana dia berusaha membangun rumah ini.
Jaraknya yang begitu jauh membuat uangnya lebih banyak terkuras untuk membiayai
buruh bangunan. Namun rumahnya jauh lebih baik dari dulu yang hanya gubug bambu
beratap ilalang. Sebuah tempat pengasingan ibu dari keluarga besarnya. Astra yang
lahir di luar nikah dianggap mencoreng nama baik keluarga puri.
Mimpi membangunkan Astra dengan
paksa. Memori-memori buruk memborbadir kesadarannya. Sampah yang begitu dekat
membangun mimpinya. Seorang anak yang lahir dari tumpukan sampah, merengek
meminta keadilan. Anak yang lain datang mendekat namun tsunami sampah memisahkan
mereka.
Astra berjalan menyalakan lampu
penerangan, ketika melewati kamar ibunya. Dia mendengar rafalan kata-kata tidak
beraturan. Ibunya bersimpuh di hadapan botol plastik. Ibunya mengaku menikah
dengan manusia plastik. Mereka bertemu di Pura Taman, manusia plastik adalah
utusan dari Pura Taman untuk menjaga sungai dari sampah plastik. Manusia
Plastik berjanji akan menemui ibunya jika terus memuja sampah plastik.
Ponselnya berdering, bapak direktur hotel
membuka dengan nada yang keras. Astra mendapat aduan dari rekan kerjanya, dia
pulang mendahului. Dia tahu yang mengadukannya pasti Yoga manajer yang menentang
usul pembuatan alat pengolah limbah hotel. Menurut Yoga laut sudah rusak oleh
perilaku warga yang membuang sampah sembarangan. Tidak perlu membuang-buang
anggaran untuk laut yang memang tidak bisa diselamatkan.
Rumah terasa hidup dengan perdebatan
Astra. Dia mengancam akan mengundurkan diri dari perusahaan. Di luar dugaan ancamannya
diterima, Astra tidak dapat menarik ucapannya lagi. Dunia ini sudah penuh
dengan manusia sampah, saling menjilat demi jabatan. Saling mencurangi satu
sama lain. Mau tidak mau Astra ikut larut dalam lingkaran saling mencurangi dan
dicurangi. Folder drive yang berisi penyusunan anggaran hotel, dia hapus
semua demi pembalasan yang setimpal.
Harapan yang tersisa hanya Jyoti,
gadis kemarin sore yang baru mengenal cinta. Gadis yang konon mau menerima
kondisinya. Astra sudah memacari dua puluh gadis, semuanya menolak ketika Astra
mengaku memiliki ibu yang gila. Astra menelepon Jyoti menyampaikan dia sedang
butuh uang. Dengan sedikit rayuan saldo rekeningnya langsung bertambah.
Keesokan harinya Astra mendatangi
Yoga. Tinjunya melayang begitu saja tepat di mulutnya. Mulut itulah yang
mengadukan kepulangannya dari kantor, mulut itulah yang menuduh Astra
menggelapkan anggaran hotel. Astra memang menganggarkan dana lebih untuk
pengolahan limbah hotel secara diam-diam karena usulannya tidak diterima.
Astra mengemasi barang-barang
kantornya setelah memberikan surat pengunduran diri kepada direktur. Semua diam
melihat langkah santai Astra memegangi kardus dan menendang pintu keluar
kantor. Dunia korporat ini tidak cocok untuk anak sampah seperti Astra. Tidak
ada rencana lagi Astra hanya mengikuti jalan yang semakin sempit terasa. Di
ujung gang Jyoti sudah menunggunya, Astra masuk dan menggantikan jyoti
mengemudikan mobilnya. Astra memilih melewati jalan tikus yang memang
keahliannya.
“Sampai kapan kamu merahasiakan
hubungan kita sama ayahku. Mantan direkturmu?” tanya Jyoti.
“Kalau kamu menemui ibuku. aku temui
ayahmu juga. Bukan masalah berat jika aku kembali ke hotel bapakmu. Beberapa
data perusahaan yang penting, masih aku pegang,” kata Astra.
“Kita cari ibumu sekarang biar kata-kataku
terbukti!” jawab Jyoti enteng.
Astra mengajak Jyoti ke sungai
mencari ibunya yang sedang asyik memungut sampah. Beberapa gundukan sampah
berjejer seperti miniatur gunung. Astra menunjukkan sampah-sampah yang
dikumpulkan ibunya. Tidak hanya sampah plastik, ibunya juga mengumpulkan kayu,
batu, baju bekas, celana dalam, dan popok bayi. Orang ningrat pasti akan jijik
dan Astra yakin memenangkan pertaruhannya dengan Jyoti.
Seperti sedang memainkan tari
kontemporer, Jyoti melilit tubuhnya dengan sampah plastik. Tubuhnya meliuk-liuk
mengibas-ngibaskan plastik di tangannya. Ibu Astra berlari mendekati Jyoti
seperti anak kecil yang mengejar mainannya.
“Titisan manusia plastik sudah
lahir,” kata Ibu Astra sambil berlutut.
Mulut Astra ternganga melihat
kejadian absurd di matanya. Dia baru sadar selama ini dia memacari gadis gila. Seharusnya
dia memperhitungkan juga bahwa Jyoti adalah seniman kontemporer lulusan
universitas seni di Belanda.
Air mata Astra keluar begitu saja melihat
ibunya diperlakukan dengan baik. Jyoti meladeni cerocos ibunya yang tidak tentu
arah. Jyoti mengimbanginya dengan obrolan yang tidak kalah aneh. Ayahnya
pemerhati sampah. Jyoti mewarisi darah seni ayahnya. Jyoti gemar membuat karya
instalasi dari sampah. Jyoti tidak malu mengatakan dia sering berkomunikasi
dengan ban bekas, kaleng bekas, atau botol-botol minuman keras.
“Tuhan tidak menciptakan sampah.
Semua memiliki misi sucinya masing-masing. Sampah menjadi pemantik jiwa seniku,”
kata Jyoti.
“Mungkin itu yang membuatmu terbiasa
dengan sesuatu yang menjijikan. Seperti aku dan ibuku,” kata Astra.
“Ibumu unik, lo. Dia mampu
menciptakan karya seni dengan caranya sendiri. Aku malah tertarik mengangkat
cerita tentang ibumu kepada komunitas seniku,” kata Jyoti.
“Terserah kamu lah. Tapi aku lega,”
kata Astra.
“Keputusanku sudah bulat. Siap-siap
saja kamu menemui ayahku,” kata Jyoti.
Berkat Jyoti ibu Astra semakin
terkenal sebagai seniman Skizofrenia, beberapa karyanya dipamerkan dan berhasil
terjual. Hal ini menarik wartawan dan televisi meliput aktivitas ibunya. Astra
lebih berperan sebagai manajer yang memperhatikan kontrak ibunya. Dengan
pengetahuan ekonominya dia sanggup menganggarkan uang pengobatan ibunya dan
modal menikahi Jyoti.
Jyoti mengadakan pentas seni
kontemporer bersama ibu Astra. Gedung kesenian sudah ramai dengan pengunjung.
Sebagian besar mereka berpenampilan nyentrik. Astra hanya duduk bengong di
pojok studio. Melihat orang-orang aneh, ibunya terlihat normal. Ibunya membuat
karya dengan media plastik, botol plastik, kain bekas, tali dan semua barang
yang ditemukannya di sungai.
Antusias penonton menandakan
tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan. Langkah ibunya selama ini tidak
salah. Upayanya adalah bentuk kecintaannya kepada sungai dan junjungannya di
Pura Taman. Beragama tidak melulu tentang upacara, menjaga lingkungan adalah
bentuk agama yang lebih konkret.
Pria gendut, berambut pirang dengan
jas yang terbuat dari plastik memeluk Jyoti. Di luar dugaan janji menemui ayah
Jyoti datang begitu cepat. Astra menerobos kerumunan ia ingin datang bukan
sebagai mantan manajer keuangan hotel, tetapi sebagai pria yang akan melamar
Jyoti.
Ibu Astra bangkit dari karya seninya
mendatangi ayah Jyoti dan memeluknya begitu erat. Tangis ibunya tumpah seperti
mendung yang menyimpan hujan begitu lama. Ayah Jyoti kebingungan sampai ketika
Ibu Astra menggumamkan “manusia plastik” ke telinganya mendadak bayangan
pilu datang.
Tiga puluh lima tahun silam ketika menyelesaikan projek kampusnya dia bertemu dengan gadis Bali yang membuatnya jatuh hati. Mereka membuat karya instalasi sampah dengan memadukan budaya Bali dan Belanda. Cinta tumbuh, mengakar, membesar, berserabut serumit sampah.