Cerpen (Tabungan Rati)
Tabungan Rati Rati duduk di mobil angkot sekolah menuju rumahnya. Udara panas membuat dia membuka jendela mobil lebar-lebar. Terlihat Janu melewati mobil angkot, meliak-liuk seperti mengejek. Rati merasa malu karena dia satu-satunya anak SMP yang naik mobil angkot. Sisanya adalah anak-anak SD. Dia ingin sekali membeli sepeda listrik namun harganya pasti mahal. Kata teman-teman harganya Rp.3.500.000,00. Kalau meminta ayah membelikan sudah pasti akan ditolak. Rati duduk di kursi depan bersama pak sopir yang ramah. Dia menceritakan dahulu mobil angkot digemari banyak orang. Semenjak ada sepeda motor, orang semakin jarang naik mobil angkot. Pak sopir beralih dari sopir angkot umum menjadi sopir khusus untuk murid. Satu alasan lagi mengapa Rati ingin membeli sepeda listrik adalah karena harus jalan kaki menuju rumahnya. Jarak rumahnya satu kilometer dari jalan utama, dia berjalan dengan anak SD yang kebetulan rumahnya berdekatan. Selama ...