Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Cerpen (Tabungan Rati)

Tabungan Rati   Rati duduk di mobil angkot sekolah menuju rumahnya. Udara panas membuat dia membuka jendela mobil lebar-lebar. Terlihat Janu melewati mobil angkot, meliak-liuk seperti mengejek.   Rati merasa malu karena dia satu-satunya anak SMP yang naik mobil angkot. Sisanya adalah anak-anak SD. Dia ingin sekali membeli sepeda listrik namun harganya pasti mahal. Kata teman-teman harganya Rp.3.500.000,00. Kalau meminta ayah membelikan sudah pasti akan ditolak.   Rati duduk di kursi depan bersama pak sopir yang ramah. Dia menceritakan dahulu mobil angkot digemari banyak orang. Semenjak ada sepeda motor, orang semakin jarang naik mobil angkot. Pak sopir beralih dari sopir angkot umum menjadi sopir khusus untuk murid.   Satu alasan lagi mengapa Rati ingin membeli sepeda listrik adalah karena harus jalan kaki menuju rumahnya. Jarak rumahnya satu kilometer dari jalan utama, dia berjalan dengan anak SD yang kebetulan rumahnya berdekatan.   Selama ...

Cerpen Manusia Plastik

Manusia Plastik Oleh: I Nyoman Sutarjana, S.Pd.H. SMA Negeri 1 Gianyar               Astra menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha menaruh sampah plastik ke dalam bajunya. Sungai hanya diisi beberapa ibu yang mencuci baju, seorang ibu bersama anaknya menghaturkan sesajen di Pura Taman. Mereka abai dengan kondisi Astra, hal itu lumrah terjadi. Kehabisan akal, Astra terpaksa mengikuti pola pikir ibunya. Botol plastik ukuran satu liter dia ambil lalu ditimang-timang.             “Ibu adik menangis dia minta makan. Kita ke rumah dulu ya!” kata Astra.             “Cup, cup, cup. Anak baik, jangan menangis. Kita pulang sekarang ya!” kata ibunya.             R...

Cerpen: Jangan Minta Tolong Kepadaku

Gambar
  JANGAN MINTA TOLONG KEPADAKU                         Aku mengusap dahiku dengan lap kain yang juga sering aku gunakan untuk membersihkan sepatu pelangganku. Pekerjaanku belum selesai, aku masih menjarit ujung sepatu pantofel. Selama tiga tahun aku bekerja aku tahu pantofel ini adalah sepatu yang bisa ditemukan di pasar-pasar. Aku bisa menilai kualitas pelangganku dari sepatunya. Dia duduk sambil memeriksa map merahnya. Dia tidak memperdulikan aku. Tepatnya kita tidak saling peduli.             Dunia memang tidak peduli apalagi kau hanya seorang tukang sol sepatu. Kita terhubung karena kepentingan, kita bertalian karena factor keuntungan. Tidak ada kebaikan yang serta merta, semua ada motifnya. Begitu juga dengan baliho yang berjajar di pinggir jalanan, di perempatan, di tempat dimana mata kita terpaksa memandang. Sem...