Menulis Cerpen Tema Harapan
Anak Pingit Aku membanting pintu dengan keras, tak kupedulikan omelan ayahku yang masih kudengar walau pintu tertutup. Aku melempar tubuhku ke kasur, berteriak sekeras yang aku bisa. Aku tak mengerti mengapa ayahku begitu keras. Hari ini malam minggu seharusnya dia mengendurkan sedikit aturannya. Aku dilarangnya keluar rumah, dia menyuruhku belajar demi mendapatkan kampus impianku. Aku memang tak seperti teman sebayaku yang lain. Ibuku sudah meninggal sejak aku lahir. Ayahku tak cukup memberiku kasih sayang. Ia lelaki kaku dan otoriter mungkin karena kehilangan sosok yang disayanginya. Kesedihannya dilimpahkan ke aku yang sesekali menjadi amarah. Dia ingin aku sukses dan itu menjadi pembenaran untuknya bersikap keras kepadaku. Sesekali dia mengajakku ke panti jompo mengunjun...