Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

menulis cerita biar ada plot twistnya

 obsesiku untuk menjadi pemimpin ini tidak serta merta, aku dibiasakan bersaing sejak kecil, aku bersaing dengan ayahku sendiri, kita tidak cocok dalam berbagai hal, aku selalu mengkritiknya, menjadi orang tua dengan singgasana tinggi, tidak boleh diusik oleh anaknya, sementara aku adalah anak yang tidak berguna, anak yang tidak layak menurut persespsinya, standarnya tentang orang yang berguna, adalah orang yang mampu berdagang, jika tidak mampu menjual sesuatu, engkau manusia gagaal, manusia tidak berguna, menurutku aku berguna, aku memiliki otak yang brilian, juara umum satu di sekolah, itulah bentuk legasiku, tetapi ayah tidak peduli, matematika tidak bisa dijual, tidak bisa dipakai membeli beras, aku berontak, aku pergi saja darinya, menikmati hidupku sebagai pemberontak, aku bekerja serabutan, apa saja untuk membuatku hidup, sambil melanjutkan sekolah, aku mendapat beasiswa, aku bersekolah seting-tingginya, hingga bekerja di pucuk pimpinan kampus, inilah saatku pulang, keluarg...

cerita dari dengerin podcast

 kemarin aku mendengar podcast yang menarik, istilah kata, isinya daging semu, chanel dibuat oleh Gita Wirjawan, semoga benar namanya, endgame gitu nama segmennya, narasumbernya adalah mbak Dewi Lestari, aku dapat ilmu tentang menulis, mbak Dee cerita tentang ritual menulisnya, pertama dia punya ritual pagi gitu, rutin dilakukan, kayaknya merefreh diri, atau menyegarkan badan dan pikiran sendiri, dia melakukan olahraga, yoga, meditasi, me timenya dia lah, ini mau aku praktekin aku imitasi dan modifikasi, punya ritual pagi, misalnya ngopi, meditasi, jurnaling, menyiram pohon, merfresh diri intinya, telat masuk gak apa-apa, intinya kau pastikan diri nyaman dulu, untuk beraktivitas, kalau sudah selesai baru aku kerja, gak peduli aku telat, pokoknya ritual ini dulu, membahagiakan diri dulu, mungkin gitu kira-kira golden mornng menurutku, yang kedua mbak dee, memandang mengkhayal itu penting, imajinasi itu penting, aku baru tahu, jadi aku perlu menyediakan waktu untuk mengkhayal, satu l...

Menulis sesuatu yang tidak aku ketahui

 Selamat pagi, masih di progrma pelemasan tangan, menajamkan pikiran, aku coba menulis sesuatu yang susah, apa itu? menulis sesuatu yang tidak aku ketahui, banyaaak, aku ini bodoh jadi gak tahu apa-apa, jika disuruh menulis sesuatu yang tidak aku ketahui, tulisannya bakal panjang, apa misalnya yang sederhana aku tidak tahu, tidak tahu pa ya? hantu? sudah biasa? apa ya? perlu waktu ni? aku tidak tahu rasa lau, random banget, mending jangan lau deh, aku juga gak mau coba, aku gak bisa minum minuman keras, tapi aku pernah minum tuak, arak, beer. Tapi belum pernah minum lau, mending gak usah deh. Tidak baik, dilarang agama. Aku belum tahu apa lagi ya? aku gak tahu mengendarai mobil deh, benar gak bisa naik mobil, gimana kalau naik mobil, gak kebayang gimana panikku, mikirin kendaraan lain, mikirin jalan, mikirin kaki nekan rem, gas, kopling. Bener, ini gak kebayang, ini bener-bener tidak aku ketahui. Tapi wajib lo nanti? siapa tahu punya anak lagi, banyak misalnya, harus angkut2, gak k...

menulis satu tarikan nafas

 pagi ini aku kena serangan panik, rasanya seperti kesamber gledek, rasanya seperti kena hukuman tiba-tiba, rasanya diaduk-aduk, rasanya seperti pengen keluar dari pikiranmu sendiri, rasanya ingin berhenti saja, tetapi tidak bisa, aku masih hidup, masih nafas, aku bernafas, menghirup udara, udara masih gratis, aku fokus pada udara, hembusan yang mengalir ke dada, menunggu reda, badai masih terjadi, hujan petir, masih belum reeda, aku nafas, sesekali minum air, aku duduk meringkuk bagai anjing, anjing yang sering aku lihat, mungkin anjing juga begitu, ternyata dia pintar, memang begitulah cara terbaik, ketika menghadapi badai, aku gak maksa untuk mereda, pikiran kusut, aku tidak mencoba merapikan, teman-teman datang, mereka tidak tahu rasanya, mengomong sendiri, aku susah fokus, diselingi candaan, aku gak bisa ketawa, ingin bilang, tapi dia pasti gak ngerti, sepuluh menit, mungkin kurang, tapi kisaran 5 sampai sepuluh aku menglaminya, sampai rasanya reda, sampai matahari terbit kemb...