Artikel ( I Gede Sukarda Menyeimbangkan Hulu Teben melalui Jalan Seni)
I Gede Sukarda Menyeimbangkan Hulu Teben melalui Jalan Seni
Oleh: I Nyoman
Sutarjana
SMA Negeri 1
Gianyar
Hp.087 861 540
191/sutarjana21@gmail.com
Abstrak
Hulu Teben adalah konsep
pemuliaan terhadap gunung sebagai hulu dan laut sebagai teben.
Hanya saja kita seringkali menganggap gunung itu suci sementara laut profan.
Laut menjadi tempat pembuangan akhir sampah-sampah di daratan. Sementara konsep
hulu teben sejatinya adalah konsep keseimbangan gunung dan laut. Orang
suci kita membangun Pura Padma Bhuana, membangun tempat suci di gunung dan
laut. Hal ini bermakna segala tempat pada dasarnya suci. Pemerintah Provinsi
Bali melalui program Sat Kerthi tujuannya untuk membangun secala holistik, membangun
alam bali, Sumber Daya Manusia Bali, Adat dan Budaya Bali. Salah satu program
adalah Segara Kerthi yaitu upaya pelestarian laut dan makhluk yang hidup yang
ada di dalamnya. Segara Kerthi yang awalnya hanya diaplikasikan dalam tataran
upacara misalnya Upacara Melast dan Caru. Upacara Melasti ini
hendaknya dilanjutkan dengan tindakan nyata misalnya membersihkan sampah di pantai.
Sampah ini bisa diolah menjadi benda berharga melalui jalan seni. Caru artinya
manis, manusia hendaknya membangun hubungan manis dengan alam ini. Kisah Pak
Gede Sukarda layak untuk diceritakan karena mampu menjalankan Sad Kerthi dengan
seni. Seni adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan hati sehingga
memunculkan keindahan. Ketika kita hanya mengeluh dengan keberadaan sampah di
laut, Pak Gede Sukarda sudah memulai langkah nyata terlebih dahulu. Langkah
kecil ini kemudian menjadi inspirasi banyak pihak.
Kata Kunci: Hulu Teben, Sat Kerthi, Segara
Kerthi, Seni
Pendahuluan
Sebagai
orang Bali tentunya tidak asing dengan istilah hulu teben. Hulu teben
sering menjadi dasar perilaku kita contohnya ketika kita tidur. Orang tua kita
akan mengingatkan tentang hulu teben. Kita disuruh tidur menghadap ke
hulu, menghadap ke utara atau timur. Utara dan timur adalah arah yang disucikan
menurut Hindu. Utara adalah simbol dari gunung, timur adalah arah matahari
terbit. Selatan adalah simbol dari laut, barat adalah arah matahari terbenam. Dari
sinilah muncul istilah Nyegara Gunung, pemuliaan terhadap gunung dan
lautan.
Pemerintah
Provinsi Bali dengan visi yang kita kenal dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali
berusaha membangun secala holistik, membangun alam bali, Sumber Daya Manusia
Bali, Adat dan Budaya Bali. Sat Kerthi adalah ajaran Agama Hindu yang berarti
enam jalan pelestarian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sat Kerthi meliputi Atma Kerthi,
Jagat Kerthi, Wana Kerthi, Danu Kerthi, Jana Kerthi dan Segara Kerthi. Dengan
menjalankan Sat Kerthi akan terwujud kesejahteraan dari hulu ke teben, dari
hulu ke hilir, dari gunung ke laut.
Dari
semua program Sat Kerthi yang pemerintah canangkan penulis tertarik dengan
Segara Kerthi. Kenapa? Karena laut seringkali kita abaikan, kita menganggap
gunung sebagai tempat suci sementara laut bersifat profan. Jika diibaratkan
dengan manusia, hulu adalah kepala bagian yang kita anggap suci. Teben
adalah kaki bagian yang kita anggap profan. Padahal kepala dan kaki sama
pentingnya membentuk keutuhan manusia.
Laut
juga identik dengan sampah, tempat pembuangan akhir sampah di daratan. Bahkan Melasti
yang merupakan salah satu dari penerapan Segara Kerthi justru sering
meninggalkan sampah. Warga yang menggelar upacara penyucian Bhuana Agung, tidak
berselang lama meninggalkan sampah yang mengotori Bhuana Agung itu sendiri.
Sudah saatnya kita menerapkan Segara Kerthi tidak hanya dari tataran upacara melainkan
melalui tindakan nyata menjaga laut dari tumpukan sampah.
Salah
satu sosok yang telah menerapkan Segara Kerthi dalam hidupnya adalah I Gede
Sukarda. Beliau konsisten menjaga Pantai Jasri, Karangasem dari tumpukan sampah
seperti kayu, triplek, kawat, tali tambang. Sampah-sampah itu beliau bawa
pulang untuk beliau kreasikan menjadi karya seni. Jalan seni bagi beliau bisa
menjadi solusi permasalahan sampah di laut. Langkah kecil ini banyak
menginspirasi orang khususnya penulis sendiri untuk menerapkan Segara Kerthi
secara nyata dalam kehidupan.
Keseimbangan
Hulu Teben dalam Konsep Nyegara Gunung
Nyegara
Gunung merupakan simbol keseimbangan. Gunung sebagai simbol purusa atau
asas kejiwaan dan Laut adalah simbol pradana atau asas kebendaan. Kita hendaknya
memuliakan gunung dan laut secara seimbang. Konsep keseimbangan ini tercermin
pada pembangunan Pura Padma Bhuana. Pura Padma Bhuana adalah pura yang dibangun
di sembilan arah mata angin. Ini menyiratkan di segala tempat adalah tempat
bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
Gunung
dan Laut adalah ayah dan ibu kita darinya muncul penciptaan. Air yang menguap
dari laut kemudian menjadi awan dan hujan. Siklus ini terjadi secara alami yang
disebut dengan Cakra Yadnya atau perputaran yadnya. Bhagawad Gita III, 14
menyebutkan adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena adanya
hujan, adanya hujan karena adanya yadnya, adanya yadnya karena adanya karma.
Sloka
tersebut menyiratkan pentingnya hujan, terjadinya hujan karena adanya
keseimbangan gunung dan laut. Oleh karenanya kita harus memperlakukan gunung
dan lautan seperti memperlakukan ayah dan ibu kita. Laut hanya kita sadari
peranannya ketika melaksanakan melasti dimana semua umat
berbondong-bondong ke laut mengiringi Ista Dewata yang dipuja. Melasti
yang tujuannya menyucikan Bhuana Agung dengan memohon air penyucian di laut.
Justru dalam kenyataannya seringkali upacara melasti mendatangkan sampah,
sampah upakara dan sampah plastik.
Upaya
pelestarian tidak hanya dilakukan di gunung tetapi juga di laut. Laut selama
ini sudah sabar menampung sampah manusia selayaknya kesabaran seorang ibu. Kita
bisa menyelamatkan ibu kita dengan kembali pada ajaran Segara Kerthi. Kita
menerapkan Segara Kerthi dengan langkah nyata misalnya mengolah sampah. Pak
Gede Sukarda adalah sosok yang mencintai laut dan menjaganya dengan jalan seni.
Gambar 1.1 Foto Pak Gede Sukarda
Sumber : dokumen pribadi Pak Gede Sukarda
I
Gede Sukarda adalah seniman kelahiran Karangasem tanggal 31 Desember 1962. Beliau
menamatkan pendidikan SMSR Negeri Denpasar pada tahun 1985 kemudian menjadi
Guru Seni Budaya di SMP Negeri 1 Abang Karangasem pada tahun 1986 hingga tahun
2014. Selanjutnya keseharian beliau sepenuhnya diisi dengan berkesenian. Sampah-sampah
di pantai menjadi inspirasinya dalam membuat karya-karya yang abstrak.
Karya
abstrak menjadi aliran yang dipilih oleh Pak Gede Sukarda karena mampu
mengekspresikan emosi beliau. Sampah-sampah yang mengisi sepanjang Pantai Jasri
membuat miris perasaan beliau diubah menjadi karya seni. Di balik karya itu
terbersit ajakan untuk menjaga pantai dari sampah.
Penerapan
Segara Kerthi dengan Jalan Seni
Segara
Kerthi adalah upaya untuk menjaga kelestarian laut sebagai sumber alam yang
memiliki fungsi yang kompleks. Hal ini dijelaskan dalam Lontar Sundarigama
peranan laut “Anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana..”
Laut dapat menghanyutkan kekotoran diri atau papa klesa dan
menghilangkan kotornya alam semesta.
Salah
satu jalan yang bisa dilakukan untuk menjaga laut adalah dengan seni. Mengapa
seni? Karena seni memperhalus budhi. Dengan seni akan memunculkan kesadaran
manusia akan hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung sebagai tempat
bersemayamnya Brahman atau Tuhan dan Bhuana Alit adalah tempat bersemayamnya
Atman.
Seni
adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesadaran
penuh. Apapun yang dilakukan dengan penuh penghayatan itulah seni, misalnya
ketika menyapu dengan kesadaran maka itulah seni. Kata seni berasal dari Bahasa
Sansekerta yaitu sani yang artinya persembahan. Ini artinya segala
sesuatu yang kita lakukan dengan kesadaran penuh dan hasilnya kita persembahkan
kepada Tuhan itulah seni.
Tuhan
di dalam Weda disebutkan menciptakan alam ini dalam kondisi lila atau
kondisi bahagia, bersenang-senang. Kebahagiaan adalah intisari dari penciptaan,
kita tidak bisa menciptakan sebuah karya dalam kondisi sedih. Karya seni pun
diciptakan dengan kondisi yang gembira dan berbahagia. Media seni pun bisa
beragam tergantung letak kegembiraan penciptanya.
Pak
Gede Sukarda berkarya sama sekali tidak memperdulikan persepsi atau apresiasi
orang. Dalam berkarya beliau mengutamakan kegembiraan sebagai bentuk perayaan
atas kehidupan. Dalam karya beliau kita akan banyak menemukan simbol Tapak Dara.
Simbol Tapak Dara digambarkan dengan dua garis melintang. Tapak Dara
adalah simbol keseimbangan. Ini seperti memberikan pesan kepada kita bahwa
hidup ini harus dijalankan secara seimbang.
Selayaknya
ombak yang indah karena naik turunnya, hidup ini indah karena suka dukanya.
Melalui seni Pak Gede Sukarda menyadari bahwa suka duka adalah gelombang yang akan
berlalu. Bhagawad Gita II.15 menyebutkan orang bijaksana memandang sama suka
dan duka. Ada suka dalam duka, ada duka dalam suka. Orang bijak mampu melihat
ada bunga dalam sampah dan ada sampah dalam bunga.
Gambar 1.2 Karya Instalasi Pak Gede
Sukarda
Sumber: dokumen pribadi Pak Gede Sukarda
Pak
Gede Sukarda tidak hanya bergerak sendiri pada tahun 1986 beliau menggagas
Komunitas Seni Lempuyang. Komunitas ini menjadi wadah para seniman
berkontribusi pada pelestarian laut. Pada tahun 2007 bertempat di pantai Amed,
Komunitas Seni Lempuyang menggelar kegiatan Bendega Art. Selain menggelar
pameran seni kegiatan juga diisi dengan bersih-bersih pantai bersama warga
setempat. Pada tahun yang sama Komunitas Seni Lempuyang berpartisipasi pada
Konfrensi Perubahan Iklim PBB melalui pameran seni instlasi sampah plastik.
Pada tahun 2015 komunitas menenggelamkan patung terumbu karang di Pantai
Jemeluk Karangasem.
Gambar 1.3 Patung terumbu Karang Pak Gede
Sukarda
Sumber : dokumen pribadi Pak Gede Sukarda
Seni
dan Enam Perilaku dalam Menyucikan Ibu Pertiwi
Atharwa
Weda XII.1.1 menyebutkan ibu pertiwi ini akan menjadi suci jika disangga oleh
enam perilaku suci. Enam perilaku suci itu meliputi Satya, Rta, Diksa, Tapa,
Brahma, dan Yadnya. Hakikat penyucian ibu pertiwi ini adalah caru yang
jika ditarik lagi pengertiannya, caru artinya manis. Caru adalah
upaya menjalin hubungan yang manis atau harmonis dengan alam ini.
Satya
artinya kejujuran, kejujuran yang pertama dalam Panca Satya adalah Satya
Hredaya yaitu setia kepada kata hati. Pak Gede Sukarda dalam tuturnya
menyatakan sampah yang beliau olah terlebih dahulu melalui dialog bathin dengan
sampah itu. Beliau tidak merubah bentuk sampah tetapi menampilkan sampah itu
apa adanya sesuai dialog bathin beliau. Melihat karya beliau kita tidak hanya
disuguhkan dengan keindahan tetapi ada pesan yang bisa diinterpretasikan secara
bebas.
Pak
Gede Sukarda sempat menjadi guru SMPN 1 Abang kemudian memilih pensiun dini
karena diabetes. Pantai memberikan jalan kesembuhan jasmani rohani beliau.
Jalan kesembuhan itu justru beliau dapatkan dari mengolah sampah. Karya beliau
banyak menampilkan simbol tapak dara. Tapak Dara dibuat dengan memadukan garis
veritikal dan horizontal. Rta atau hukum alam ini sangat menghendaki
keseimbangan. Jika manusia tidak mampu membuat keseimbangan, maka alam akan
membuat keseimbangannya sendiri.
Gambar 1.4 Simbol tapak dara dalam karya
seni
Sumber : dokumen pribadi Pak Gede Sukarda
Diksa
atau penyucian jasmani dan rohani. Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan tubuh
dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa dibersihkan
dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. Melalui karya seni
Pak Gede Sukarda mendapatkan jalan pembersihan dan penyucian diri. Beliau mampu
mengolah sampah di luar (Bhuana Agung) dan di dalam (Bhuana Alit). Bhuana Agung
atau alam ini memiliki hubungan yang erat dengan Bhuana Alit atau tubuh ini.
Alam yang sakit adalah penanda dari adanya tubuh yang sakit sehingga
menyembuhkan diri sendiri sama dengan menyembuhkan alam ini.
Tapa
artinya pengendalian atau pengekangan diri dari hawa nafsu. Manusia memiliki Dasa
Indria yang harus dikendalikan dari hawa nafsu. Dalam Bhagawad Gita XVI.21 menyebutkan
tiga pintu penderitaan yaitu Kama, Krodha, dan Lobha. Karya seni Pak Gede
Sukarda berangkat dari kejujuran hati dan kebebasan dalam berkspresi. Tidak ada
motif mencari pengakuan atau validasi dari luar. Beliau sudah menemukan
kebahagiaan di dalam sehingga tidak perlu lagi mencari kebahagiaan di luar.
Brahma
artinya doa yang dipanjatkan. Doa yang paling murni adalah ungkapan rasa syukur
dan berkecukupan. Karya seni Pak Gede Sukarda menyiratkan kebahagiaan dan
keceriaan anak-anak. Beliau melihat sampah seperti kebahagiaan anak kecil yang
melihat mainan. Dengan rasa syukur dan berkecukupan beliau mengubah sampah
menjadi bunga yang indah. Seperti yang diungkapkan dalam Bhagawad Gita II.15
orang bijaksana adalah orang yang mampu bersikap sama dalam suka dan duka.
Mampu melihat hal baik dalam kondisi terburuk sekalipun.
Yadnya
adalah korban suci yang tulus ikhlas. Panca Yadnya menyebutkan tentang Bhuta
Yadnya untuk mewujudkan Bhuta Hita atau kebahagiaan alam. Inti upacara Bhuta
Yadnya adalah caru yang diartikan sebagai manis. Menjalin hubungan yang
manis antara alam dan manusia. Pak Gede Sukarda percaya bahwa hidup harus diisi
dengan yadnya selayaknya alam ini yang sudah beryadnya untuk kesejahteraan
manusia.
Usia
Pak Gede Sukarda memang tidak lagi muda sudah 63 tahun namun dedikasinya
terhadap laut tidak surut. Beliau masih aktif mengunjungi laut, membersihkan
sampah, dan mengolahnya menjadi karya seni yang penuh makna. Tidak ada puja
puji, tidak ada deretan piagam dan penghargaan karena bukan itu motivasi
beliau. Langkah beliau murni adalah bentuk cinta terhadap laut, cinta terhadap
alam ini.
Penutup
Segara
Kerthi adalah upaya untuk mewujudkan keseimbangan hulu teben. Pemuliaan
laut harus dilakukan setara dengan pemuliaan gunung. Segara Kerthi adalah upaya
untuk menjaga kelestarian laut sebagai sumber alam yang memiliki fungsi yang
kompleks. Hal ini dijelaskan dalam Lontar Sundarigama peranan laut “Anganyutaken
laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana..” Laut dapat menghanyutkan
kekotoran diri atau papa klesa dan menghilangkan kotornya alam semesta.
Pak
Gede Sukarda adalah sosok yang menyalakan lilin ketika alam ini gelap oleh
permasalahan sampah. Seni adalah jalan untuk menyucikan ibu pertiwi. Atharwa
Weda XII.1 menyebutkan enam perilaku untuk menyucikan ibu pertiwi meliputi
Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yadnya.
Melalui
kejujuran (satya), hukum alam (rta), penyucian diri (diksa), pengendalian diri
(tapa), dan pengorbanan (yadnya). Seni mampu mengubah sampah menjadi bunga yang
indah. Seperti yang disebutkan dalam Bhagawad Gita II.15 orang bijaksana
memandang sama suka dan duka. Ada suka dalam duka, ada duka dalam suka. Pak
Gede Sukarda adalah sosok yang perlu kita teladani akan kecintaanya terhadap
laut dan alam ini.
Daftar
Pustaka
Donder
dkk. I Ketut. 2008.Teologi Sosial.Surabaya.Paramita.
Maswinara.
I Wayan. 1999. Bhagawad Gita. Paramita.
Maswinara.
I Wayan. 2002. Konsep Panca Sradha. Surabaya. Paramita.
Suarka.
I Nyoman. 2024. Laut dalam Perspektif Teologi Hindu pada Susastra Jawa
Kuna. Denpasar. Jayapangs Press.
Wiana.
I Ketut. 2004. Mengapa Bali Disebut Bali. Paramita.
Wiana.
I Ketut. 2007. Tri Hita Karana Menurut Konsep Hindu.Surabaya.Paramita.