Setelah Guru Penggerak Jadi Apa

 Setelah mendapat sertifikat guru penggerak tertanggal 25 November maka aku resmi jadi guru penggerak. Yey, guru penggerak. Guru penggerak? aku jadi bertanya, guru penggerak itu apa? setelah enam bulan pendidikan aku masih belum tahu esensi guru penggerak. Jujur, aku ngerasa gak cocok jadi guru penggerak. Segala syarat guru penggerak itu gak masuk di aku. Guru yang tergerak, guruk yang bergerak, dan guru yang menggerakkan (ini paling sulit). Memang, gak ada syaratnya di aku. Aku guru Mager, malas gerak. Lagian tujuan aku ngikutin guru penggerak adalah melatih gangguan cemasku. Meningkatkan kemampuan coving stress ku. Walau nyatanya gangguan cemasku tambah parah. Di akhir masa pendidikan guru penggerak, aku bahkan ngerasain serangan cemas, panic attack. Yap, begitulah aku ngerasa gak masuk kriteria guru penggerak. Gimana bisa menggerakkan, kalau aku takut ketemu orang. Apalagi sekarang, aku cerita dikit tentang kerjaanku. Aku jadi ketua panitia PSAJ, itu penilaian sumatif akhir jenjang. Aku tertekan banget. Gak nyaman. Jauh-jauh hari aku sudah mikir susahnya ketemu orang, koordinasi, ketemu hal-hal yang mendadak, harus bikin keputusan segera. Aku gak layak untuk itu. Benar-benar gak nyaman rasanya. Tapi ini tuntutan, mau gak mau harus diambil. Pikiranku berputar-putra kadang ngerasa gini. Ini lho gak ada apa-apanya sebenarnya. Tinggal bikin panitia, suruh panitianya kerja. Tapi pikiran lain gak, gimana kalau gagal, gimana kemungkinan buruk terjadi. Perang di kepala. Begitulah kondisiku. Sering overthinking. Aku harus menulisnya. Cerita ke orang sudah gak mungkin. Satu-satunya terapi ya menulis. Menulis untuk berpikir jernih. Gak apa-apa kok. Jika tidak baik-baik saja. Ini wajar untukku. Aku mah kondisinya begini. Benar jika hal-hal yang aku sebutin terjadi. Tidak apa-apa. Ceritain saja. Semua isi kepalamu keluarin. Jangan biarin dia mengendap dan ganggu kondisi mentalmu. Keluarin saja. Dan ingat semua pasti berlalu. Contohnya guru penggerak. Kamu ingat gmna konndisimu ngadepin guru penggerak? Ngerasa gak mampu? nyesel ikut? gimna gagal? Toh juga lewat juga kan. Mungkin ini pelajaran terbesarmu setelah melewati guru penggerak. Kamu gak harus tiba-tiba jadi guru yang paripurna. Guru inspiratif. Kepemimpinan. Percaya diri. Seperti bagian pikiranmu yang lain. Kamu ya kamu. Ngelewatin guru penggerak. Padahal lebih banyak gak yakinnya, pesimisnya, ketegangan semua juga lewat bukan. Ini juga berlaku pada PSAJ, akhirnya akan berakhir juga. Itulah pelajaran penting setelah jadi guru penggerak. Dan boleh dong sedikit memuji diri sendiri. Salah satu bagian penting dari terapi menulis ini selain mengungkapkan semua kegelisahan. Poin kedua adalah memuji diri sendiri. Yap, memuji diri sendiri. Bukan, narsis. Toh gak ada yang baca. Aku hebat juga ya. Bisa ngelewatin semua ini. Bisa nafas. Walau tersengal-sengal. Aku hebat. Karena tak semua bisa melakukan semua ini. Menyeimbangkan diri sendiri dengan kondisi luar itu tidak mudah lo. Tidak mudah terlihat baik-baik saja sedang di dalam diri ada perang bathin. Kamu bisa. Aku ini hebat juga. Sisanya ucapkan terimakasih. Terimakasih sudah memilih jalan terus. Meski kadang jalan yang dileati tidak mudah. Terimakasih sudah memilih menghadapi. Alih-alih sembunyi. Mulai sekarang pertahankan itu. Hadapi meski gimanapun susahnya. Hadapi lagi tekanan-tekanan yang mirip gurru penggerak. Jika ada program kementrian lain lagi. Ikuti, kamu pasti bisa. 

Postingan populer dari blog ini

Teka-Teki

Darsana adalah Sistem Filsafat Hindu