Blogger ini sempat pengen tak hapus
Catatan 9 Pebruari 2025
Tulisan ini hanya semacam refleksi bahwa dalam menulis ini khususnya di blog sempat mengalami ritme, pasang surut ya kalau diandaikan gelombang. aku sempat ingin menghapus blog ini. Karena apa ya? bosan mungkin? ngerasa gak berkembang? pengen nyoba platform baru? Makanya ingin tak off-in. Sudah lama hiatus, widih bahasanya. Ya, sudah lama blog ini gak isi tulisanku, karena males mungkin? Sakitnya kumat? Ya, kalau cemasku kumat, aku berasa ada dalam fase depresi, kehilangan semangat ngelakuin apa-apa, rasanya susah sekali bahagia. jadi murung. tapi kalau dipikir-pikir lagi. Sayang ya blg ini dihapus, sudah dari 2020. Lima tahun lah. Sebelumnya sebenarnya ada blog lagi, dari tahun 2019 kayaknya. Aku hapus karena isinya terlalu pribadi. Aku takut kalau ada yang baca dan berpikir macam-macam. Banyak takutnya deh. Begitulah, namanya penderita gangguan cemas. Pikirannya sudah kejauhan. Untuk jujur dan terbuka musti banyak layernya, kayak bawang. Di blog ini pun aku ngerasa kurang terbuka. Karena mikirnya gitu. Takut ada yang baca. Padahal selama lima tahun ini aku lihat, gak masalah tuh. Yang baca cuma aku aja sendiri. Apa buat aja tulisan yang gamblang. Semacam terapi menulis gitu. Oh ya terapi untuk cemasku, juga terapi menulis. Jadi aku menulis sebanyak-banyaknya, kalau bisa aku keluarin semua sampah di pikiran. Akhirnya blog tidak jadi dhapus. Makanya tulisan ini masih ada. Tulisan yang lain beberapa aku hapus juga, kalau menurutku gak layak dibagikan. Terlalu privasi. Sudah lama juga, lima tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal aku lewati dengan tulisan di blog. Contohnya ketika mengikuti Guru Penggerak, beberapa tulisan adalah penugasan Guru Penggerak. Membuat koneksi antar materi. Wah, wah, wah jadi nostalgia. Kebayang langsung bagaimana tegangnya pas itu. Sekarang mah biasa saja. Sekarang teganganya karena aku jadi ketua panitia PSAJ. Ketegangan belum beraakhir. Dari kecemasan satu ke kecemasan yang lain. Aku lagi banyak kecemasan, makanya berlebih. Responku berlebih. Ada yang mau berbagi kecemasan ya. Enak lu? Mana ada orang yang mau diajak susah. Hidup ini kan transaksional. We, mulai serius lagi. Jangan serius dong. Serius kan sudah bubar, band-nya. Hehe garing. Tulisan ini jadi semacam evaluasi untuk blog ku. Anggap saja hari ini ulang tahun blog ku. Aku sudah memanfaatkan blog ini untuk mengasah bakat menulisku. Walau rasanya gitu-gitu saja. Akibat malas. Akibat takut keluar dari zona nyaman. Tulisan blog ini jadi gini-gini saja. Bagaimana supaya tidak gini-gini saja? Aku harus komitmen, istiqomah kata islamnya. Kalau hindu ada ya? Mulat sarira mungkin. Sudah bulat niatnya untuk jadi penulis. Gak ada alasan lagi, untuk tidak menulis. Menulis saja toh gak ada yang baca. Nikamti suara keyboard ketika dipencet. Bayangkan suara rintik-rintik hujan, yang menjatuhkan bulir-bulir kemuramannya. Nikmati seperti membuang hajat. Membuang segala unek-unek di kepalaku. Jangan takut jelek, toh gak ada yang baca. Menyesal aku berpikir untuk menghapus blog ini. Penanda aku ingin menyerah. Ingat pesan guruji "Berganti sepeda tidak ada gunanya, jika kamu tidak bisa naik sepeda," Berganti platform menulis tidak ada gunanya, jika kau tidak bisa menulis. Aku sempat bikin akun wordpress, sekarang aku lupa apa nama akunnya, apa paswordnya. Aku nyaman di blogger. Kayak ngiklan. Bolgger sesua untuk ku yang lemah teknologi. Fiturnya gampanag menulis. Tianggal buat tulisan, edit dan publish. Aku juga gak mikirin tampilannya gmn. Apa yang sederhana lah. Bisa dilihat, tulisanku kebaca, ada gambar-gambar dikit itu aja. Kayaknya bagus juga menulis satu paragraf begini ya, semacam buang hajat. Menulis satu tarikan nafas. Berhenti ketika sudah merasa lega. Kembali lagi terapi menulis. Menurut Mark Matusek menulis untuk pencerahan. Menulislah tak peduli kakimu kesemutan, karena kelamaan duduk. Menulislah walau gak ada yang baca. Anggap ngobrol-ngobrol dan teman ngobrol mu adalah dirimu sendiri, roh mu, atmanmu, spiritmu. Itu mungkin maksud menulis untuk pencerahan diri. Aku hanya perlu mental baja, buka mental keruppuk sepeti mental yang aku miliki sekarang. Kuatkan pikiranmu. Buat otakmu pusing. Buat otakmu tidak nyaman. Dan jadi manusia baru. Writing for awakening. Salam bahagia untuk diriku sendiri. I Love You