menulis dongeng tentang landak dan kaktus
Kaktus merasa kesepian, hidup di tanah yang gersang. Tidak ada yang mendekatinya, sudah pasti mereka yang mendekat akan tertusuk durinya. Karena sendiri kaktus menghibur dirinya sendiri dengan bernyanyi. Ketika itu datanglah landak dia masuk begitu saja di sela-sela kaktus. "Landak, mengapa kamu terburu-buru begitu?" "Aku sedang bersembunyi dari kejaran pak tani. Mumpung ada kamu pak tani pasti takut dengan duri-durimu," sahut landak. "Kita sama-sama berduri mengapa mesti takut dengan pak tani?" "Dia punya cara untuk menangkap saya, ada jebakan jaring. Syukur aku selamat, jika tidak aku bakal dimasak," kata landak. Kaktus merasa bersyukur karena memiliki teman baru. Landak sering mengunjunginya membawa makanan yang dia suka. "Aku bawa kacang ni, isinya untuk aku. Kulitnya untuk kamu, ya. Kulitnya kan lama-lama jadi kompos," kata landak. Landak memang lucu, dia tidak bisa diam. "Landak, apa kamu pernah kesepian?" Kaktus bertanya serius. "Mengapa kamu bertanya begitu?". "Kita kan sama-sama memiliki duri. Pasti tidak ada yang mendekati kita," kata Kaktus murung. "Aku mau menjadi temanmu. Nanti aku bawakan kompos yang banyak untukmu." Landak benar menepati janjinya, dia membawa banyak kompos untuknya. "Nampaknya ini sudah cukup untukku. Tubuhku jadi gemuk," kata Kaktus. "Tenang, tinggal sedikit lagi. Kamu akan melihat keajaiban," kata landak. Kaktus tumbuh berbunga lebat, bunga-bunga itu berubah manji buah. Buahnya berwarna merah cerah. Itu membuat burung-burung berdatangan. "Wah, jadi ini keajaibannya? Burung-burung tidak takut lagi denganku. Terimakasih, ya," kata Kaktus. "Ini balasan karena kamu menyelamatkanku dari pak tani," kata Landak.