menulis dongeng lagi, lontar dan kemiri

 Lontar dan Kemiri


Hari ini Saraswati, hari yang berbeda bagi Lontar dan Kemiri. Lontar senang sekali karena akan diupacarai. Kemiri sedih karena akan menjadi bumbu lawar. Lontar sudah tidak sabar bangun dari keropaknya. Lontar berusaha bersembunyi di balik keranjang bumbu.


Lontar dibuka dari keropkanya namun lontar penuh lubang. Ternyata selama tertidur lontar dikerubungi rayap. Lontar menangis tersedu-sedu. Kemiri datang, dia baru selamat dari dapur. Dia berhasil melompat dari keranjang bumbu, dan bergegas ke sanggah. Dia mau menemui sahabatnya, Lontar.


"Lontar, jangan menangis. Lihatlah tubuhmu tidak sepenuhnya berlubang. Masih ada huruf yang bisa dibaca," kata Kemiri.


Lontar tidak terhibur sama sekali, dia tambah menangis. Kemiri mencoba menasihati kembali.


"Jangan menangis di hari spesialmu. Kamu akan dihias dan diupacarai. Kamu harus bersyukur tidak semua benda disini dihormati sepertimu," kata Kemiri.


"Kamu lebih beruntung, tubuhmu tidak berbeda dengan teman-temanmu. Saya berbeda, hari ini seperti tidak ada artinya. Saya tidak mau merayakan Saraswati, pergilah aku ingin sendiri saja," kata Lontar.


Kemiri pergi meninggalkan Lontar sendiri. Kemiri sedih dengan kondisi temannya. Dia kembali ke dapur menyerahkan diri kepada tuan rumah untuk dijadikan lawar. 


Ketika tertidur tuan rumah mengambil Lontar. Tubuhnya diganti dengan daun lontar yang baru. Tulisannya dibuat ulang di tubuhnya yang baru. Tuan rumah mengambil benda bulat yang hitam, menggosokkan ke tubuh barunya lontar. Setelah digosok dengan benda hitam, tubuh lontar dibersihkan dengan tisu.


Saraswati kali ini menjadi hari yang sangat spesial bagi lontar. Dia memiliki badan yang baru dengan tulisan yang sangat jelas. Lontar dihiasi dengan janur terlihat cantik. Lontar kaget melihat benda hitam yang mendekatinya.


"Selamat, ya. Kamu pasti tidak mengenali saya. Saya kemiri, tubuhku dibakar untuk memperjelas tulisanmu," kata Kemiri.


"Maafkan saya sudah mengusirmu. Kamu berbeda sekarang, itu gara-gara saya," kata Lontar memeluk Kemiri.


"Tidak apa-apa saya berbeda. Selama hidupku tidak berakhir jadi bumbu lawar," kata Kemiri tersenyum.


 

Postingan populer dari blog ini

Teka-Teki

Darsana adalah Sistem Filsafat Hindu