Refleksi Menulis
Baru-baru ini aku mendapat kabar dari Balai Bahasa Bali. Bukuku sudah selesai dibuatkan ilusterasi. Aku lihat ilusterasinya, lumayan bagus. Aku senang, jadi penyemangat untukku lebih rajin menulis. Bukuku sedang dibuatkan ISBN. ISBN itu apa ya? Induk seri buku nasional? Intinya tentang nomer seri buku di perpustakaan nasional. Coba cek google, ternyata International Standard Book Number. Wow, bahasa inggris. Baru tahu.
Aku gak terlalu rajin menuli. Kurang gigih. Ya, begitulah kembang kempis. Tapi mimpi masih tetap ada. Aku ingin menjadi penulis. Gimana jadi penulis, kalau aku tidak rajin menulis. Ya, harus dirajinin lagi. Ini sudah ada kabar gembira. Buku ketiga ku sudah mau terbit. Bangga, dong. Dirayain boleh. Pakai penyemangat.
Makanya blog ini, jadi lebih ramai. AKu menulis apa saja. Karena aku ingin latihan menulis. Merangsang otak untuk cepat berpikir. Setiap ngetik aku harus sudah memikirkan ide yang lain. Harus terus berlanjut, begitu seterusnya. Blog ini memang jadi latihanku menulis. Tempat aku mengisi berbagai jenis tulisanku, dari yang abal-abal, hingga aku buat serius.
Pokoknya nulis aja, buat proyeksi. Abis ini aku menulis apa. Kayaknya aku ingin menulis ilmiah. Karena pas CGP tugasnya kan ada menulis. Itu kayak membuatku menemukan kebahagiaan menulis ilmiah, menulis kayak penting gitu, formal maksudku. Tentang refleksi, kritik terhadap pendidikan. Ya, aku ingin melanjutkan jenis tulisan ini. Banyak bayangan.
Gara-gara berita bulan bahasa ini. Keinginanku meninggi. Ingin begini-begitu. Target banyak. Aku ingin menulis di Wartam. Menulis tentang ajaran agama dan pendidikan. AKu perlu belajar tentang isu pendidikan. Tentang Kurikuluem Merdeka. AKhir-akhir ini banyak kritik.
Nadiem sudah bakal diganti. Ada menteri baru. Biasa di akhir kepemimpinan, ada banyak kritik tentang penerapan kurikulum merdeka. Semua memberi teorinya. Menurutku yang lebih layak mengkritik kurikulum bukan politisi. Tapi guru. Karena guru adalah korban kayak kelinci percobaan. Setiap kurikulum berganti, selalu ada tuntutan baru untuk guru.
Aku ingin menulis lebih ilmiah lagi. Tapi tentu aku masih suka menulis fiski. Karena jiwaku memang bebas. Aku menulis cerita-cerita yang membebaskan diriku. Aku menemukan satu-satunya kebebsan di dunaia ini yaitu dengan menulis. Ini membuatku ingat dengan Pak Made Tesa. SOsok yang pertama kali menyarakankan aku untuk menulis.
Menulis bisa jadi identitas untukku. Jadi kesan orang-orang terhadapku.