Dari Donor Darah Jadi Demam Berdarah

 Kejadian seru ini sangat mudah diingat soalnya terjadi di hari-hari penting. 



Entar dulu sambil lihat kalender. Gimana ini katanya ingat? Maklum sudah tua.

Aku donor darah di hari Minggu, bulan Agustus. Aku ingat, malamnya ada gerak jalan 45. Janjinya mau ikut nonton. Tapi gak jadi. Aku punya insomnia. Sakit yang membuatku sangat menghargai tidur. Syukur aku bisa tidur. Paginya aku bahagia. Horee, aku bisa tidur. Untuk merayakan itu. Aku donor darah. Aku sudah 30-an kali donor darah. Bangga. Aku berangkat menuju Unit Donor Darah (UDD) Buleleng yang terletak di jalan Yudistira.


Kenapa bisa ingat jalan Yudistira? Dulu aku sampai muter-muter nyari jalan ini. Ternyata gampang diingat, di belakang rumah sakit Buleleng. Kalian yang mau donor darah bisa ke sana ya. Donor itu sehat lho. Selain sehat, berkah juga. Aku takut darah sebenarnya. Entah kenapa tidak terasa ketika donor darah.


Kesan saya berubah. Setelah donor yang satu ini. Aku ketemu pegawai donor darah, baru aku lihat sekarang. Selama 30-an kali aku ketemu beberapa pegawai. Orang ini dari jogja. Kenapa bisa tahu? Aku lupa percakapan apa yang bikin aku tahu ini.


Dia punya kebiasaan, mengulang pertanyaannya. Pertanyaannya diucapkan dua kali. Sehat hari ini pak? Sehat hari ini pak? Sempat sakit? Sempat sakit? Setelah beberapa kali percakapan aku baru nyadar. Orang Jogja kata-katanya sangat pelan. Tidak hanya kata-kata, tindakannya juga pelan. Mungkin untuk orang ini satu ya? Aku tak tahu.


Saya tusuk ya? Saya tusuk ya? Iya, iya. Cepat lakukan. Seperti slow motion. Ketakutanku muncul. Jadi membesar. Nusuknya pelan banget. Isi goyang-goyang lagi. Astagaa. Mengapa jadi berkesan? Makanya aku bisa nulis sekarang. Setelah 2 bulan, aku masih bisa menulisnya. 


Selanjutnya tanggal 17 Agustus hari kemerdekaan, aku sakit. Pertama kali ngalamin sakit. Biasanya aku kuat lho. Aku sangat peduli dengan kesehatan. Pokoknya jangan sampai sakit. Biarkan sakit mental saja, fisik harus tetap bagus. Ya aku sakit juga.


Awalnya aku rasa menggigil. Perjalanan pulang ke Gianyar, rasanya capek dan jauh banget. Aku beberapa kali berhenti. Badan terasa hangat. Tapi syukur aku sampai rumah dengan selamat.


Selanjutnya, oh ya. Aku ada rukol lagi. Harus vicon sampe malam pukul 11 malam. Kalo dipikir capek juga ya, lumayan panjang kegiatannya. Pagi perjalanan jauh, malam harus bikin tugas. Dan badan ngedrop. Aku belum tahu DB. Nah malamnya, aku menggigil. Panas dan dingin susah dijelaskan. Badan sakit, seperti remuk.


Besoknya ya, singgah ke rumah sakit Saba. Berkesan banget ya ceritanya. Makanya aku nulis lancar. Tapi kalo dialami jelek banget. Lama juga aku sakit. Mungkin sampe seminggu. Badan belum fit. Aku juga sampe ada lokakarya. Itu program calon guru penggerak.


Kalo dipikir-pikir kuat banget ya. Sombong dikit boleh dong. Memuji diri untuk motivasi bagus. Aku bangga dengan diri sendiri. Karena sudah melewati dua hal perihal darah. Donor Darah, dan Demam Berdarah.


Gianyar, 3 Oktober 2024

Postingan populer dari blog ini

Teka-Teki

Darsana adalah Sistem Filsafat Hindu