Mencari Tukang Cukur
Bentar lagi akan ad panen hasil belajar CGP. Temen-temen pada semangat menyambut. Sebagai bagian dari kelompok tentu aku harus ikut arus. Walaupun aku penyendiri, tentu jg harus lihat sikon. Lihat konteks nya juga. Biar lama-lama gak dibilang gendeng.
Aku ikut saja, bergaya-gaya, mulai nyamain bentukan luar dengan teman-teman. Mulai dari baju dan cukuran. Klo cowok prameter bergayanya cukup 2. Cukuran minimal rapi. Aku gak suka bergaya macam-macam. Lihat rambutku yg sudah panjang, ya harus cukur.
Hari di purnama Kapat, ternyata banyak upacara ya. Di buleleng, marak dengan orang melasti. Sekarang yang melasti adalah desa bungkulan. Warga berjalan mengiring sesuunan ke pantai. Susah juga nyari tukang cukur. Banyak yang tutup. Apalagi cuma punya waktu di malam hari untuk bercukur.
Hari sebelum purnama, juga banyak warga yang melasti. Aku jadi mikir tentang purnama kapat. Purnama yang spesial bagi umat Hindu, ada lagi purnama Kadasa. Aku mikir untuk lebih mempelajari tentang filosofi purnama. Seperti yang banyak aku dengar, purnama ada purnama khusus. Nanti aku tulis tentang ini.
Aku berhasil mecukur di hari Rabu. Sehari sebelum purnama kelima. Pas itu juga, aku bikin foto di tukang fotokopi untuk spanduk CGP ku. Sebelumnya aku sudah bikin foto, dengan rambut yang panjang. Malamnya aku diberi tahu, fotoku ada yang kurang. Emang nasibnya fotoku diisi dengan rambut baru. AKu sebenarnya gak suka gaya-gaya. Tapi sudah terlanjur ikut, ya ikuti saja.
Apa pesan dari pencarian tukang cukurku. Perlu bersabar mungkin. AKu bisa bererncana, tapi rencana selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Pengen cukur senin, eh batal, hari selasa juga gagal. Ternyata jodohnya di hari Rabu. Rabu, buda kata orang Bali. Hari untuk pencerahan. Kata guruji, setiap mencukur yang diingat juga mencukur kemelekatan dengan duniawi. Semoga perlahan aku bisa melepas kemelekatan.
Sekian, lumayan berat tulisan ini