Mencari Bibit Bodhi
Aku merasa kasihan dengan pohon bodhi yang ad jalan menuju pantai giri mas. Kata org sana pohon itu berasal dari pura gunung Sekar. Pohon itu sangat teduh bagiku. Beberapa kali aku duduk di sana sambil menikmati gemericik air. Namun pohon itu kini tidak teduh. Karena tubuhnya dipangkas. Subak di sana sedang perbaikan jalan menuju sawah. Pohon itu mungkin jadi penghalang.
Aku baru tahu pohon bodhi. Dulu hanya aku dengar melalui cerita Sidharta gautama. Baru ketemu pohon menarik di pinggir sawah itu. Aku perhatikan bentuk daun dan batangnya. Aku searching ttg pohon bodhi. Yang ditanam bijinya. Mulailah muncul keinginan nanam pohon bodhi.
Aku baru tahu juga di sekolah ternyata ada pohon bodhi. Namanya mahabodhi. Ternyata pohon bodhi juga banyak jenisnya. Ad bodhi yg daunnya warna merah. Ad bodhi asli Tibet. Katanya bodhi tempat Sidharta mendapat pencerahan masih ya? Ad juga bodhi yg berasal dari Borobudur magelang.
Akhirnya senang banget rasanya karena aku berhasil dapatin bibit bodhi. Beruntung benih bodhi kecil tumbuh di pinggiran sungai. Ini adalah anak dari bodhi besar yang dipangkas gitu.
Menanam bibit bodhi juga sempat drama. Karena tanamannya layu. Aku takut mati. Sudah aku siram, tapi cuaca sedang panas. Kata temanku di sekolah, bodhi gampang tumbuh. Seperti pohon jarak katanya.
Sempat aku tinggal pulang cukup lama karena libur galungan. Dua Minggu tepatnya. Aku sudah mikir Bodhi bakalan mati kekurangan air. Daunnya beberapa aku potong, untuk mengurangi penguapan pikirku. Tanahnya juga aku lapisin daun2 kering. Untuk mengurangi penguapan. Teoriku bermunculan.
Astaga senang banget. Ketika balik Buleleng aku disambut bodhi yang tumbuh segar. Dengan daun yang lebat dan lebar. Begini ya rasanya, pulang dan ada yang menyambut. Ini mungkin sebabnya manusia pelihara anjing.