Lingkaran Kemalasan
Ada banyak penjara tak terlihat, penjara bukan hanya ruang penuh jeruji. Penjara bisa berupa kenyamanan. Rasa aman dan nyaman bisa jadi ilusi membuat kita kehilangan kemanusiaan kita. Kita jadi kehilangan semangat bertarung, terlarut dalam kenyamanan. Awalnya menyenangkan tapi lama-lama terasa membosankan. Hanya aku tak tahu bagaimana cara melepas dari rasa malas ini. Aku bikin kesibukan-kesibukan kecil, supaya bisa beranjak dari rasa malas. Memaksa tubuh untuk bergerak. Tapi gitu, hidup gak punya target jadi kayak amunisi tanpa tujuan. Sia-sia dan tidak berguna. Benar sih, aku harus menyibukkan diri, buat kesibukan kecil. Salah satunya adalah mengetik ini, mengurai pikiran yang beku karena efek libur panjang. Awalnya rasanya berat sekali, mengubah rutinitas. Aku menatap layar ini lama. Tidak tahu bagaimana memulai atau mengisi layar ini. Aku paksakan saja, seperti menghidupkan mesin yang sudah lama mati. Aku butuh trigger, oh ya apa targetmu? Sehingga pergerakanmu ada maknanya. Libur ini aku ingin menekuni dunia menulis. Aku rajin mencari kegiatan yang bisa menantang semangat menulisku. Salah satunya adalah event di DKJ, aku sendiri gak yakin bakal lolos. Aku mencoba saja yang aku bisa. Kalau lolos berarti berjodoh, dapat ilmu menulis sesuatu yang berat. Awalnya aku baca sebuah karya di situs Tengara.ID, isinya berat banget, sebuah ulasan karya AA Navis. Aku jadi tahu sosok penulis itu. Karena dulu sering melintas di story IG ku, sebuah lomba mengulas sosok AA Navis. Aku gentar juga, karena kemampuan menulisku kayaknya gak sampai segitu. Apakah aku bisa mengikutinya? Biasa deh aku mikirnya kejauhan. Belum tentu aku lolos juga. Coba buat target lain. Misalnay menulis cerita di platform Kwiku, kan lebih tidak ada tekanan. Aku bisa menulis kisah masa laluku. Sembari curhat sembari berkarya. Misalnay berangkat dari satu keresahan. Ingin menjadi manusia berguna. Aku sering mengalami stigma seperti itu, diremehkan, dipandang sebelah mata. Kemudian aku membuat cerita sedikit lucu tentang perjuangan untuk menjadi berguna, Nyatanya memang hidup ini tidak berguna. Seperti menguji sebuah paradoks, semakin berusaha untuk menjadi penting, semakin terasa tidak pentingnya. Seperti ulasan karya yang aku baca kemarin Saraswati dan keheningan. Sosok yang digambarkan A Navis bisu dan tuli tetapi dia ingin belajar membaca. Saraswati relate dengan kepercayaan Hindu sebagai dewi ilmu pengetahuan dan lekat dengan lontar. Tokoh AA Navis ada yang namanya Lontar juga. Pendeknya cerdas, A.A Navis memang cerdas. Jadi gitu aku lebih rajin baca, khusunya portal online. Tentang esai, cerpen dan menargetkan karyaku suatu saat dimuat di sana. Bisa gak sih? Caranya ya aku harus rajin baca, rajin menyerap ilmu. Mencatat juga, karena aku cepat lupa. Pernah aku baca buku yang bagus, tapi sekarang aku lupa isinya. Jadi gak bisa menjelaskan bagusnya dimana? Gimana kalau aku menulis semacam ulasan buku yang aku baca? Ide bagus. Jadi aku lagi berusaha menyelsaikan novel, yang judulnya aku lupa. Yang Terkurung. Kayaknya judulnya itu. Novel ini genre horor, membahas tentang khodam. Makhluk pelindung yang mendampingi setiap kelahiran manusia. Tahun lalu bahasan ini viral. APa khodammu? bla..bla..bla. Penulis pintar mengangkat sesuatu yang viral. Sehingga menjadi daya tarik buku ini. Walaupun horor, aku baca gak horor banget karena dibumbui dengan romansa, sains, pembalakan hutan. Mirip bukunya Dee Lestari. Horor tapi dibuat logis, dengan sisi keilmuannya. Kurangnya buku ini apa? Informasinya agak patah menurutku, kejadian satu dengan yang lain seperti ada gap. Kurang penjelasan lagi, sehingga pembaca lebih yakin dengan isi cerita. Tokoh satu dengan yang lain kurang ada titik temunya, walaupun di bacaan berikutnya aku pikir bakal ada. Tapi aku pikir lama juga, tokohnya dibuat berjalan sendiri. Secara umum buku ini menginspirasiku, gimana membuat genre yang agak berbeda. Pertama kali juga aku membaca buku horor. Kayaknya aku akan membeli lagi, menambah pengalaman membacaku. Karena bacaanku lumayan monoton. Eka Kurniawan, Dee Lestari, Joko Pinurbo itu-itu saja. Ini semacam langkahku keluar dari zona nyaman. Tapi aku perlu memuji diriku sendiri karena sudah aktif menulis. Hidup harus variatif biar gak bosen. Karena aku rentan bosan. Aku perlu mencoba hal-hal yang berbeda, supaya rumus hidupku gak gitu-gitu saja. Perlu merefleksi aku sebelumnya kayak gimana sih? Aku mengisi waktuku dengan meditasi, mendengar ceramah guruji. Aku imbangi sekarang dengan sembahyang, sesekali koleksi benda-benda unik. Kemarin aku dapat benda unik di Mr DIY. Aku dapat mainan menara Eiffel. Aku juga mengkoleksi korek. Karena korek gas sekarang desainnya bagus-bagus. Walau tadi kesel karena korekku dihilangin.