Intinya Bahagia

Intinya Bahagia

Aku berusaha bahagaia, karena aku tak bahagia. Hanya orang yang tak bahagia yang ingin bahagia. Ketika sudah bahagia, dia tidak mencoba bahagia lagi. Gimana ya caranya bahagia? Semua harapan terwujud? Apa harapan mengenal kata semua? Bukannya ketika harapan terwujud walaupun semua akan muncul harapan lagi? Tidak pernah cukup, dan pasti melelahkan mengejar kebahagiaan, sampai kita berhenti dan berusaha measa cukup. Bahwa bahagia itu harus kita batasi dengan rasa cukup. Jika tidak, kita akan terjebak pada lingkaran palsu. Hingga kita menghabiskan masa tua kita, untuk mengejar kebahagiaan. Waktu kecil, kita berharap dewasa supaya bahagia. Setelah dewasa kita berharap punya keluarga. Ketika punya keluarga kita berharap lagi. Berharap dan berharap, kita sadar kita tidak bahagia. Kita perlu berlatih berhenti, kita perlu latihan merasa cukup. Jika tidak kita akan menghabiskan hidup kita dengan sia-sia. Mari syukuri apa adanya. Walau tidak sempurna. Walau tidak sesuai harapan, atau malah bertolak jauh dengan harapan kita. Belajar bersyukur apa adanya. Mensyukuri kelebihan, itu hal biasa. Tapi mensyukuri kekurangan, itu baru luar biasa. Jadi aku ingin belajar bersyukur. Konon merupakan formula rahasia untuk berbahagia. Dan sangat sulit bersyukur, apa lagi mensyukuri hal yang tidak layak rasanya disyukuri. Tapi aku tidak punya pilihan. Umurku sudah 40 tahun, aku merasa kebuntuan dasyat. Hidupku terasa gelap. Titik terbawah. Aku tidak punya pilihan selain belajar bersyukur. Kurangi berharap ini itu. Lebih realistis, mensyukuri dari hal tersulit. Apa misalnya? Pertama aku mensyukuri punya ibu gila. Ibu yang tiap detik menguras emosiku. Membuatku harus memendam kemarahan, kekecewaan, kesedihan sekaligus. Emosi yang justru membuatku sakit mental depresi, gangguan cemas atau apalah namanya. Teorinya, aku ingin mensyukuri ibuku yang sakit mental. Tiap hari bayar hutang karma. Hidup ini adil, hanya karena aku belum tahu titik adilnya dimana, bukan berarti hidup ini tidak adil. Pasti ada hutang karma, pasti ada alasan logis kenapa aku punya ibu gila. Mungkin kelahiran sebelumnya aku banyak berbuat buruk. Hari ini hutangnya aku balas. Walau seringnya sakit hati. Karena realitanya sulit banget untuk ikhlas, sedang kelakuannya benar-benar serasa tidak bisa dimaafkan. Jijik. Setidaknya menulis aku punya ruang pelampiasan. Aku punya tempat melampiaskan unek-unek. Ketimbang aku memborbardir kemarahanku tanpa pertimbangan matang. Jatuhnya rugi sendiri. Bisa menyakiti orang yang aku sayang. Ya, rasa syukur berikutnya, aku punya tempat untuk meluapkan kekecewaanku. Yaitu tulisan. Emosiku negatifku tersalurkan dengan sehat. Apalagi sampai bisa menjadi tulisan yang bernilai jual. Inilah contoh mengolah racun kehidupan menjadi obat. Jalan Tantra namanya.  Menulsilah sampai aku kelelahan. Kehabisan energi. Sehingga emosi itu tidak sempat melukai diri sendiri dan orang lain. Menulislah sampai emosi dan perasaanku menjadi tajam. Sehingga aku bisa mengungkapkan setiap detail yang aku rasakan dengan indah. Langkah yang berkelas. Semoga menulis ini selalu menjadi jalan yang terang ketika kehilangan arah. Semoga aku tidak kehilangan kegembiraanku menulis. Aku ingin menulis seperti kanak-kanak dulu. Dengan semangat dan kepolosan anak-anak melihat dunia dengan sederhana. Merasakan batasan kebahagiaan sangat dekat. Ya, ini bisa jadi kunci kebahagiaan. Mendekatkan harapan dengan kenyataan. Karena di umurku sekarang, bukan saat yang tepat membangun harapan yang tinggi-tinggi. Aku sudah tahu batasanku. Tidak apa-apa jika tidak jadi apa-apa. Hmm, aku ya begini-begini saja. Masih sering merasa rendah diri. Merasa tidak pantas untuk semua ini. Merasa kecil, selalu minder. Aku sudah berusaha mengatasi semua itu. Mencoba lebih percaya diri. Tapi kembali lagi seperti yang aku bilang sebelumnya. Semakin dikejar, rasanya semakin jauh. Syulkuri saja sikap yang begini. Aku jadi pribadi yang humble, bisa menghargai siapa pun, khususnya orang-orang inferior, aku tak sungkan memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita. Aku adalah tempat bercerita yang teduh. Karena aku tidak menghakimi, aku selalu belajar mengerti mereka dari sudut pandang mereka. Hal itu tidak akan aku sadari jika aku selalu merasa tinggi. Merasa terlalu percaya diri. Jadi mungkin ini bukan perjalanan bahagia, tetapi perjalanan untuk menemukan jati diri. Mengenali kekurangan dan kelebihan. Menemukan pesan tersembunyi di balik kekurangan. Jika aku merasa minder itu adalah bekalku menjadi lebih dewasa. Lebih bisa menghargai orang. Menghargai setiap proses yang aku lewati. Jika aku menarik jauh ke belakang, aku akan bangga dengan diriku. Diriku yang lemah tapi bisa bertahan sampai sekarang. Itu tandanya aku ini hebat. Aku layak memuji diriku. Sesuatu yang jarang aku lakukan karena perasaan minderku. Aku layak memuji diriku sendiri. Atas segala perjuanganku. Segala pencapaianku, jika dipikir itu sangat layak diapresiasi. Ini adalah saat yang tepat untuk terus bercermin. Melihat ke belakang, melihat betapa spesialnya diriku. Lama sudah aku tidak menulis seinsten ini. Lama tidak mengakrabi huruf dan kata. Sekarang saatnya bergumul dengan tulisan. Hmm, betapa leganya, bisa menulis dengan gamblang. Mungkin ini contoh kecil kebahagiaan itu. Bahagia yang muncul dari usaha bersyukur. Mungkin rasa syukurku belum sempurna, tapi hari ini aku merasakan dampaknya. Jarang juga bisa aku rasakan seperti sekarang. Waktu yang tepat juga untuk menyembah Tuhan. Bercakap-cakap kepada-Nya. Ruang privasi dalam doa. Yap, aku jadi spiritualis. Hehe

Postingan populer dari blog ini

Teka-Teki

Darsana adalah Sistem Filsafat Hindu