Nilai Upanisad dalam Kurikulum Merdeka
Nilai Upanisad dalam Kurikulum Merdeka
Mungkin umat Hindu belum banyak yang tahu mengenai Upanisad. Bagi yang sudah mengenal mungkin Upanisad hanya diartikan sebagai kitab. Kitab Upanisad adalah kitab yang muncul pada jaman Upanisad. Jaman Upanisad adalah jaman yang ditandai dengan semangat masyarakat untuk lebih mendalami ajaran yang terkandung dalam kitab suci Weda. Upanisad pada masa itu adalah kegiatan diskusi antara guru dengan murid, kegiatan ini kemudian berkembang menjadi sistem pendidikan Hindu. Dimana pada jaman ini guru dan murid hidup dan tinggal pada satu wilayah yang disebut pasraman.
Upanisad jika diartikan dalam konteks sekarang adalah kurikulum. Kurikulum adalah pedoman dalam menyelenggarakan proses pendidikan di Indonesia. Kurikulum sekarang disebut dengan Kurikulum Merdeka. Tujuan dari Kurikulum Merdeka ini adalah mewujudkan generasi yang merdeka atau menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman.
Mengenai sistem pendidikan Upanisad sangat dekat dengan cerita Bhagawan Domiya. Catatan penting dalam pembelajaran Bhagawan Domiya adalah mengajar muridnya dengan cara yang berbeda. Ketiga murid diajarkan sesuai dengan minat dan bakat. Dalam Kurikulum Merdeka ini disebut dengan kodrat alam. Kodrat alam adalah kecenderungan alami yang dimiliki manusia yang merupakan berkat dari Tuhan. Setiap manusia memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda. Tentunya pendidikan harus mampu mengakomodasi kecenderungan ini seperti harapan dalam Kurikulum Merdeka.
Manusia menurut Hindu dikelompokkan menjadi Catur Warna. Ibaratnya warna yang berbeda-beda, manusia juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter ini disebut dengan Catur Warna atau empat peran yang bisa diambil manusia dalam kehidupannya. Salah satu dasar penentuan Catur Warna adalah Guna. Guna ini memiliki pengertian yang sama dengan minat dan bakat dalam Kurikulum Merdeka.
Guru sesuai dengan roh kurikulum merdeka yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah pamong atau mendampingi murid bertumbuh sesuai kodrat alam. Hal ini dianalogikan seperti petani yang merawat bibit tanaman. Guru harus memperhatikan dengan benar kondisi muridnya. Dalam Upanisad ini sangat erat dengan konsep Upa, upa artinya dekat. Dekat yang dimaksud adalah kedekatan antara guru dengan murid. Saking dekatnya hubungan ini dalam upanisad mirip dengan hubungan keluarga atau parampara. Sehingga ada garis silsilah hubungan guru murid ini.
Upanisad jika diartikan per katanya, upanisad berasal dari kata upa-ni-dan sad. Secara etimologi Upanisad artinya duduk dekat di bawah kaki guru. Sebagai ilusterasi pendidikan Upanisad dilakukan dengan murid mengitari gurunya, dilakukan di alam terbuka misalnya di gunung atau tepi sungai. Upanisad dilakukan dengan berdialog. Murid leluasa menyampaikan kebingungannya atau bahkan bisa mendebat penjelasan gurunya. Guru juga bisa menerima pendapat muridnya jika sejalan dengan ajarannya.
Contoh dalam cerita Bhagawan Domiya adalah cerita Sang Weda yang menjalankan tugas yang diberikan dan memberikan penyempurnaan terhadap ilmu yang didapatnya. Jika dikaitkan dengan Kurikulum Merdeka ini tergolong ke dalam kodrat jaman. Kodrat Jaman adalah kondisi atau tuntutan dari masing-masing jaman. Guru dan murid harus luwes atau fleksibel dengan kondisi jaman. Sehingga dengan dialog ini hal ini akan sangat mungkin terpenuhi.
Dari uraian ini saya menyadari bahwa Upanisad sangat relevan dengan Kurikulum Merdeka. Atau mungkin juga roh Kurikulum Merdeka adalah Upanisad. Yang mana menteri pendidikan kita membuat kebijakan dengan mengacu kepada pemikiran ki Hadjar Dewantara. Dalam sejarah Ki Hadjar Dewantara sendiri sebelum mencetuskan sekolah Taman Siswa. Beliau juga menggali nilai-nilai luhur yang sudah ada sebelumnya. Karena nusantara sudah mengenal sistem pendidikan seperti pasraman ketika masa kejayaan Hindu.