Harmoni Pendidikan dan Kebijaksanaan Upanisad: Menyemai Nilai Kekeluargaan di Sekolah
Harmoni Pendidikan dan Kebijaksanaan Upanisad: Menyemai Nilai Kekeluargaan di Sekolah
Oleh: Made Agnie Jegeg Dwi Raziandra
Bali adalah salah satu pulau yang ada
di Indonesia yang terkenal sebagai tujuan wisata internasional karena keindahan
alamnya, budaya yang kaya, dan pantai yang memukau. Pulau ini juga dikenal
dengan adat istiadat dan tradisi Hindu Bali yang unik, yang terlihat dalam
berbagai upacara, tarian, seni, dan arsitektur Pura. Pastinya aku sangat bangga bisa menjadi bagian warga asli
Bali, dan sudah 18 tahun lamanya aku tinggal di pulau ini. Bali tidak hanya
terkenal degan keindahan alamnya,
tetapi juga dengan system Pendidikannya. Aku lahir di Denpasar, yang dimana aku juga tinggal
di Denpasar tetapi
ketika umurku 2 tahun
kami sekeluagra tinggal di Klungkung sampai akhirnya di umur 7 tahun aku
menetap di Singaraja dikarenakan pekerjaan Orang tuaku. Banyak hal dan kisah
yang ku alami, sampai saat ini aku duduk di bangku SMA. Aku bersekolah di salah
satu sekolah unggul di Bali, dan salah satu sekolah boarding school yang ada di Bali. Sangat banyak kisah yang aku lalui sampai akhirnya
bisa bersekolah di sini,
banyak nasihat yang diberikan oleh kedua Orang tuaku hingga aku bisa menerima
bahwa aku harus bersekolah disini. Nasihat yang kedua Orang tuaku berikan
sangat berarti bagiku, saat dimana aku manangis di dalam kamar menangisi semua
kekecewaanku dan di situ juga Orang tuaku memberikan nasihatnya untuk tetap
bersyukur dan menjalani semua tantangan yang ada di depan. Satu, dua bulan aku
lewati dengan berat hati tetapi hari demi hari aku berhasil menerima keadaan
bahwa ketika aku tidak bisa bersekolah di tempat yang aku inginkan, aku harus
berprestasi di sekolah ini.
Rasa
berat hati ini membuat ku hanya berfokus
pada belajar di kelas, tanpa berusaha mencari dan mencoba
berproses mengikuti lomba.
Setelah satu semester berlalu, aku mulai bisa berdaptasi dan mulai menikmati rasanya duduk di bangku
kelas 10 SMA. Di semester satu aku bangga
dengan diriku sendiri, bisa masuk 3 besar dalam satu angkatan dan
mendapatkan Widya Werdi dan Widya Adi. Aku mulai bangkit, di semester dua aku mencoba mengikuti lomba
dan berusaha keluar dari zona nyamanku. Setelah melewati semua kendala selama
aku bersekolah di sini, dan setelah 6 bulan lamanya aku bias mulai berproses,
mulai mengikuti kegiatan dan progam sekolah.
Banyak hal yang sudah ku lewati selama
hampir 3 tahun ini, tidak hanya aku dan diri sendiri tapi berkat dukungan dan
nasihat kedua orang tua ku juga berkat Matta
Pitta di sekolah. Sekolah yang sangat aku banggakan ini memiliki progam sekolah
yaitu Grha, progam ini menurun dari kakak-kakak alumni
angkatan pertama. Progam ini ada karena system boarding school di sekolahku, dimana Grha adalah keluarga kita di sekolah dan
ada Matta dan Pitta sebagai Bapak dan Mamak kita di sekolah. Aku termasuk dalam salah satu dari 9 Grha yang ada, yaitu Grha Uttara. Sejak kelas 10 aku sangat
merasakan kekeluargaan, tidak
hanya dari Bapak Mamak tetapi juga dari kakak dan adik asuhku. Aku sangat ingat
dimana saat aku merasa berat hati untuk bersekolah di sini tetapi Bapak dan
Mamak merangkul dan memberikan nasihat juga pembelajar yang sangat berarti bagiku.
Di saat kegiatan Assembly Grha kami
semua berkumpul dan disitu kami saling bercerita, menceritakan keluh kesah
kami, dan saling merangkul satu sama lain. Berkat
dukungan dari keluarga
Uttara Grha aku mulai bangkit yang dimana di kelas 11 aku
dan tim ku masuk semifinal regional pada lomba di bidang ekonomi. Di sekolahku,
kami dilengkapi fasilitas yang sangat baik bahkan di saat lomba tersebut
Pembina ku meluangkan waktunya untuk membimbing kami. Kami di latih untuk menjawab
soal yang berbobot, Pembina ku juga menasehati dan memberikan
dukungan dengan sangat baik.
Setelah setengah perjalanan yang aku
lewati, di semester dua aku dilantik menjadi
salah satu ketua organisasi, yaitu aku adalah ketua dari organisasi PMR. Sedikit takut rasanya saat itu untuk
memegang tanggung jawab tersebut, tapi ternyata semua rasa takutku itu hanya
hal sepele. Dua sampai tiga bulan berlalu aku
memegang jabatan sebagai
ketua tetapi aku melalukannya dengan
senang dan sangat tenang,
tidak hanya itu aku mulai bias berkomunikasi dengan pembinaku walaupun awalnya
merasa sangat canggung.
Di saat ada kendala dalam beberapa
kegiatan maupun tugas tetapi pembinaku siap membantu tanpa ada rasa amarah
sedikitpun. Pembinaku menuntunku sejak aku belum mengerti apa apa, sampai akhirnya
saat ini aku sangat berkembang dan klebih percaya diri. Aku sangat ingat disaat kami sangat mengusahakan mengikuti suatu lomba,
tetapi disitu kami gagal
dan tidak mendapatkan juara samasekali. Di detik- detik pengumuman aku sangat
takut, tidak hanya mengecewakan diriku
sendiri tetapi juga megecewakan teman- teman serta Pembina kami. Di balik
rasa kecewaku, saat itu juga pembinaku berkata “Gagal itu bukan akhir dari
segalanya, tapi awal dari perjalanan menuju kesuksesan” dan “Setiap kegagalan
adalah pelajaran berharga yang akan membuatmu
lebih kuat dan bijak.” Saat itu hatiku
sedikit merasa lega, tidak akan menyerah dan akan mulai
membangkitkan diri kembali. Aku
menyadari selama aku bersekolah disini, dukungan yang ku dapatkan tidak hanya
dari keda orang tuaku, tetapi juga dari Matta
Pitta, Guru pembimbing, Pembina, dan bisa di bilang dari seluruh warga Smanbara. Sangat
banyak rasa bangga
terhadap sekolah ini serta
penghuninya, rangkulan hangat yang diberikan keluargaku di sekolah yang tidak
akan pernah kulupakan.
KESIMPULAN:
Pentingnya nilai-nilai kekeluargaan dalam menciptakan lingkungan belajar yang
mendukung dan harmonis. Saya menggambarkan pengalaman pribadi saya sebagai
siswa di sekolah berasrama di Bali, yang berfokus pada dukungan dari orang tua, guru, serta
komunitas sekolah dalam menghadapi tantangan
dan proses pembelajaran.
Sistem sekolah yang mengadopsi struktur kekeluargaan, seperti program Grha dengan figur Matta dan Pitta sebagai "orang tua" di sekolah, membantu siswa tumbuh secara
emosional dan akademis. Nasihat, dukungan, dan bimbingan dari orang tua, guru, dan
teman-teman menjadi kunci keberhasilan dalam
meraih prestasi dan menghadapi kegagalan. Essay ini menekankan bahwa pendidikan bukan hanya tentang pencapaian akademis,
tetapi juga pembentukan karakter melalui hubungan sosial yang positif dan
kebijaksanaan hidup yang diterima dari orang-orang di sekitar kita.