Aspek Kekeluargaan dalam Film Chibi Maruko Chan

 Kalau libur di rumah aku suka menonton Chibi Maruko bareng anakku. Awalnya aku iseng saja buka Chibi di Youtube Kids. Aku nostalgia, karena ini adalah film masa kecilku, ketika tahun 90-an. Sseingatku Maruko adalah tokoh yang menyebalkan, aku gak terlalu suka dengan film ini. Mungkin kalah saing dengan Sinchan, film yang temanya sama, ttg keluarga tapi lebih lucu. Dulu aku sempat mengikuti satu cerita film ini, jalan ceritanya lumayan rapi. Aku suka teknik penulisan ceritanya, semuanya ada sebab akibatnya, dan tidak terduga.


Entah kenapa Naya suka dengan filmnya. Awalnya aku putar sesekali, diantara tontonan Youtube kesukaannya ada Leika Garudita, Like Nastya, atau Tayo. Aku tidak tahu kapan dia nonton sendiri. Yang aku sadari, dia sudah tahu tokoh Maruko, dan Naya tidak suka. Maruko malas katanya. Kami menonton hingga tahu sifat Maruko lainnya, suka tidur, pandai berdebat apalagi sama ibunya. Maruko juga anak yang peduli dengan orang lain. Dia banyak bertemu orang karena rasa penasarannya.


Aku pikir, bagus juga kalau aku memutarkan Maruko untuk ditonton Naya. Film ini kaya akan pesan. Contohnya tentang kesederhanaan. Aku baru ngeh, setelah Naya cerita kalau anak-anak Jepang suka belanja uang receh. Adegan Maruko disuruh belanja sama ibunya, uangnya adalah uang receh. Sementara Naya tahu kalau uang receh nilainya kecil. Aku bilang saja itu bagus, anak-anak Jepang uang jajannya sedikit. Mereka juga jarang belanja, banyakan membawa bekal dari sekolah. Entah dia ngerti atau tidak, jangan dipikir dulu.


Nilai keluarga yang menonjol bagiku adalah ketika makan bersama. Maruko selalu makan bersama, baik pagi, atau malam. Di meja biasanya ada keluarga maruko kakek, nenek, ibu, ayah, kakaknya maruko, dan maruko. Ketika makan biasanya Maruko bercerita tentang apa yang dia alami di sekolah atau keinginan-keinginan aneh Maruko. Di Jepang mungkin dibiasakan untuk berbicara bersama keluarga, semua boleh bicara. Maruko biasanya dibela oleh kakeknya, aku lupa namanya. Isi Sakura nya.


Maruko benar-benar diajarkan kedisplinan dan kesederhanaan. Maruko biasa disuruh belanja ke warung, sepertinya itu tugas utama Maruko. Kalau membantu ibu, kayaknya jarang. Maruko selalu mendebat ibunya. Maruko juga diajarkan kesederhanaan, misalnya Maruko memakai baju diskon. Aku ingat episode maruko dibelikan sweater oleh ibunya. Ketika di sekolah Maruko sadar kalau ada teman lainnya Migiwa dan Noguci yang memakai baju sama. Ibu Maruko menambahkan jaritan di bajunya Maruko supaya berbeda.


Ada banyak tokoh dalam Maruko. Mereka punya backgroud story masing-masing. Mereka punya keluarga juga dengan nama-nama dijelaskan detail. Tentunya ada cerita kesederhanaan. Misalnya teman Maruko aku lupa namanya, temanya Bu Taro. Mereka kagum melihat labu di rumah (aku sampai googling). Ok, yang punya kebun labu namanya Hamaji. Orang kaya di kelas Maruko namanya Hanawa. Nah, Hanawa punya labu khusus yang bisa dihias halowen. Ada lah si Hamaji yang minta dibawakan labu, dia pikir labunya sama kayak Hanawa. Ternyata tidak bisa.


Begini pengenalan tokoh Maruko setelah googling. Maruko punya kakak namanya Sakiko. Sakiko ini rajin, pintar dan ngefans sma Hideki (artis disana). Maruko tinggal di desa namanya Shizouka. Aku lupa nama SD nya. Bapak Maruko namanya Sakura Hiroshi yang suka minum dan merokok. Tak patut ditiru. Teman baik Maruko, juga teman satu bangku Tamae. Ketua kelas Maruo Sueo, yang punya ibu yang baik. Hanawa anak orang kaya, pembantunya namanya Pak Hide. Hamaji, Butaro, Fujiki, Noguci, Migiwa, Nagasawa, Yamada. Ada yang suka sepak bola, aku lupa namanya.


Pokoknya film ini cocok ditontonkan buat anak, ketimbang acara lainnya yang menurutku minim edukasi. Makanya perlu sekali orang tua ikut mendampingi anaknya nonton. Memberikan pesan moral secara perlahan. Intinya bisa bergembira bersama anak. Anak-anak cuma butuh kegembiraan sih. Tinggal kita memberikan ruang perhatian untuk anak kita. Karena dia akan tumbuh besar lo. Kumpulin ingatan sebanyak-banyaknya, sebelum nanti dia punya dunianya sendiri.

Postingan populer dari blog ini

Teka-Teki

Darsana adalah Sistem Filsafat Hindu