Peranan Orang Tua dalam Pendidikan

Peranan Orang Tua dalam Pendidikan


Setiap orang pasti menyayangi anaknya, terkadang bentuk sayang itu menjadi memanjakan. Kasih sayang memang diperlukan untuk tumbuh kembang anak. Tapi kasih sayang yang berlebihan justru memberi dampak buruk bagi anaknya. Anak menjadi kurang mandiri, kurang cakap menghadapi permasalahan hidupnya. Ini karena sudah terbiasa bergantung kepada orang tuanya. Kasih sayang memang perlu tetapi kasih sayang itu hendaknya tidak hanya mencakup kebutuhan materi anak. Membelikan ponsel padahal anak masih kecil atau membelikan sepeda motor padahal belum cukup umur. Kasih sayang ini juga harus mencakup kebutuhan rohani anak. Misal orang tua hadir tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi juga hadir dari segi emosional anak. Orang tua mau menjadi pendengar keluh kesah anak, belajar memposisikan diri dalam kondisi anak. Tidak memaksakan persepsi atau pendapat pribadi. Ada dua kemungkinan kondisi anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional. Anak memiliki pribadi yang rapuh atau memiliki karakter pemberontak.


Disebutkan dalam Manawadharmasastra memiliki anak yang suputra itu sama nilainya dengan seratus yadnya utama. Begitu besarnya nilai anak yang suputra dalam agama Hindu. Apa itu anak Suputra? Anak Suputra adalah anak yang mampu berbhakti kepada Sang Catur Guru. Berbhakti kepada Tuhan, orang tua, guru, dan masyarakat. Kata Putra sendiri menurut Weda adalah mereka yang mampu menyeberangkan leluhur dari jurang neraka. Menjadi anak yang suputra tidak hanya berdampak bagi dirinya bahkan berdampak bagi leluhur. Sosok yang kita percaya akan lahir kembali atau punarbhawa melalui prati sentana atau keturunanya. Anak yang suputra tentu saja akan mampu melahirkan dan membentuk anak yang suputra juga.


Sudah waktunya bagi orang tua Bali untuk berbenah atau mulat sarira. Sudahkah menjadi orang tua yang mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak? Atau malah menjadi orang tua yang sibuk menyelenggarakan upacara dan melupakan tugas sebagai orang tua. Bali memang kental dengan tradisi, adat, dan budaya. Ini membuat masyarakat Bali sibuk dengan urusan berbagai macam upacara. Terkadang mengabaikan peranan dalam mendidik dan membimbing.


Yadnya dalam pengertian umumnya adalah pengorbanan yang tulus. Di kalangan masyarakat pengertian Yadnya menjadi lebih sempit yakni hanya sekedar upacara atau ritual. Misalnya Manusa Yadnya peranan orang tua tidak hanya sekedar mengupacarai anaknya mulai otonan, metatah, atau pawiwahan. Manusa Yadnya bisa berupa tindakan sederhana misal mendengarkan keluh kesah anaknya.


Peranan orang tua dijelaskan dalam Nitisastra dijelaskan dalam Panca Wida yang meliputi Sang Ametwaken, Sang Matulung Urip, Sang Anyangaskara, Sang Maweh Bhinojana, dan Sang Mangupadyaya. Terkhusus Sang Mangupadyaya peranan orang tua adalah memberikan pendidikan dan pembinaan kepada anaknya. 


Orang tua adalah tempat sang anak mendapatkan pendidikan pertama kali sebelum mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Sebelum belajar dari gurunya, seorang anak sudah belajar dari orang tuanya. Dari kata-katanya dan yang paling penting adalah dari tindakannya. Karena tindakan memiliki arti seribu kali dari kata-kata. Anak akan mudah mencontoh kebiasaan orang tuanya.


Anak yang serba diatur, akan menjadi anak yang kurang percaya diri. Anak yang terlalu dibebaskan akan menjadi anak yang arogan. Ingin menang sendiri dan keinginannya diutamakan. Pola asuh ini adalah polah asuh yang kurang baik. Sebelum menuntut guru untuk mendidik anaknya, orang tua juga harus belajar dulu cara mendidik anak.


Orang tua harus sadar peranannya sebagai guru rupaka, seorang guru juga. Seorang guru harus memiliki kebijaksanaan. Dalam mendidik anak, orang tua harus memiliki kebijaksanaan. Harus memiliki wiweka untuk memilah mana yang baik untuknya. Bukan apa yang baik bagi ayahnya. Orang tua harus mampu menyeimbangkan kapan bersikap keras, taat aturan, kapan harus lembut penuh kasih.


Dalam bentuk kedisiplinan tentu orang tua harus keras, harus berpegang pada prinsip dan aturan. Misalnya waktu belajar anak, ketika saatnya belajar orang tua harus tegas kepada anaknya. Hal ini juga untuk tanggung jawab anak lainnya misalnya membersihkan kamar, atau mencuci bajunya sendiri.


Bersikap lembut diperlukan ketika anak memiliki permasalahan. Orang tua harus bisa menjadi pelabuhan tempat sang anak berkeluh kesah. Orang tua harus bisa melihat maslah dari sisi anaknya. Sehingga bisa berempati dan menemukan solusi bersama.


Sebagai salah seorang guru, dari Catur Guru. Orang tua tentu harus bersinergi dengan guru-guru yang lain. Lebih dekatnya adalah guru pangajian atau guru di sekolah. Orang tua harus menjaga kerjasama yang baik untuk mendidik anaknya. Orang tua harus menyadari peranan guru pangajian di sekolah yang tidak hanya mengajar tapi juga mendidik anaknya.



Postingan populer dari blog ini

Teka-Teki

Darsana adalah Sistem Filsafat Hindu