menulis satu tarikan nafas
pagi ini aku kena serangan panik, rasanya seperti kesamber gledek, rasanya seperti kena hukuman tiba-tiba, rasanya diaduk-aduk, rasanya seperti pengen keluar dari pikiranmu sendiri, rasanya ingin berhenti saja, tetapi tidak bisa, aku masih hidup, masih nafas, aku bernafas, menghirup udara, udara masih gratis, aku fokus pada udara, hembusan yang mengalir ke dada, menunggu reda, badai masih terjadi, hujan petir, masih belum reeda, aku nafas, sesekali minum air, aku duduk meringkuk bagai anjing, anjing yang sering aku lihat, mungkin anjing juga begitu, ternyata dia pintar, memang begitulah cara terbaik, ketika menghadapi badai, aku gak maksa untuk mereda, pikiran kusut, aku tidak mencoba merapikan, teman-teman datang, mereka tidak tahu rasanya, mengomong sendiri, aku susah fokus, diselingi candaan, aku gak bisa ketawa, ingin bilang, tapi dia pasti gak ngerti, sepuluh menit, mungkin kurang, tapi kisaran 5 sampai sepuluh aku menglaminya, sampai rasanya reda, sampai matahari terbit kembali, enaknya ya, perasaan lega, lega karena aku sudah melewatinya, mulai bisa mikirin kerjaan, aku minum lagi, kerja yang ringan-ringan saja, sampai dipastikan sudah lega, rasanya seperti sinar mengusir kegamangan, rasanya begitu, aku senang, begikulah hidup, susah-senang, susah-senang, begitulah kodratnya, alami begitulah adanya, sembahyang atau tidak sembahyang, susah-senang, susah -senang silih berganti, aku ingin sembahyang tadi, setidaknya berterimakasih karena semua sudah lewat, aku merasa lebih mantap, ucapkan terimakasih saja, karena semua akhirnya lewat, walau nanti berganti lagi, susah-senang, susah-senang, begitulah adanya, tiba-tiba bijak ini, mungkin begitulah, orang kena masalah tiba-tiba bijak, aku memang uring-uringan belakangan ini, banyak pikiran, mikirin pindah, mikirin keluarga, mikirin ketidak pastian, makan jadi gak teratur, jarang olahraga, aktivitasku banyakan toksik, begitulah bagusnya, masalah bikin aku tobat, tobat Tuhan, aku harus kembali pada aktivitas positifku, olahraga, kesenian, melukis, aku kembali lagi ke jalan yang benar Tuhan, maaf Tuhan, ini pertanda aku terlalu jauh dari jalanmu, jadi mari kita bicara lebih intim dengan dirimu, lebih jujur lagi dengan dirimu yang sejati, untuk diriku, untuk diriku yang di dalam, semua ini di luar kondisimu, kamu tida sengaja membuat ini, tidak ada pilihan, hal pahit harus terjadi, kamu tidak punya kendali, untuk membuatnya lebih baik lagi, ya semua memang kurang baik, tapi begitulah adanya, mau gimana lagi, jalani dengan sebahagia mungkin, sebahagia yang bisa kamu wujudkan, walau mungkin sulit, tapi carilah celah bahagia, walau kecil, sudah deh, cukup mikirnya, mikir macam-macam, justru bikin kamu jauh dari bahagiamu, mengeluh hanya bikin sakitmu tambah parah, jangan ditolak deh, semuanya baik-semuanya baik, itu yang terbaik, meski ini buruk, bukan berarti tidak bisa dinikmati bukan, kamu hebat karena memilih untuk bahagia